Surat Untuk Negeri Piramida

AllahuAkbar!!!

Surat untuk Negeri Piramida

Asswrwb.

Teruntuk Negeri Piramida

Teruntuk Negeri Piramida

Dear Negeri Padang pasir,
Sebuah negeri impian jutaan anak negeri…
Bagaimanakah kabarmu hari ini? Aku tetap berharap engkau baik-baik saja disana, meskipun aku tak bisa berdusta dengan kondisi yang ada. Sengaja kutuliskan surat ini untukmu. Sebuah kata kerinduan yang menumpah ruah dalam relung kalbuku. Aku ingin engkau tahu, bahwa aku, kami di sini di negeri Garuda berbalut pilu mendengar kabar tentangmu.

Tanah kelahiran Nabi nan rupawan,
Bolehkah aku mengatakan sesuatu secara jujur padamu, sesungguhnya aku takut menyapamu. Bukan karena aku tak pedulikanmu, atau pun mengacuhkanmu. Tapi satu hal yang tak bisa kuhindari setiap kali aku mendengar tentangmu adalah gelombang kecemasan dan titik bening yang selalu jatuh pada kedua pipiku.

Maafkan, bila aku belum mampu membelikan pesawat udara untukmu. Tuk menjemput keluargaku di sana. Engkau tahu, kami di sini, di Indonesia mencemaskan mereka, keluargaku. Keluarga merah putih. Aku takut mendengar kabar tentangmu.

Engkau tahu, setiap hari ketika matahari muncul di permukaan bumi dari ufuk timur, maka setiap itu pula eyang putri dan eyang kakung duduk di alun-alun beranda rumah. Dengan wajah resah. Dan cahaya mata yang muram. Padahal eyang putri dan eyang kakung itu manusia paling sabar yang pernah aku temukan. Namun akhir-akhir ini mereka selalu murung. Dan aku sering melihat mereka berlama-lama dalam sujud dan do’a panjangnya. Eyang mencemaskan anak cucunya. Yang berada di negerimu.

Negeri Mesir, aku tak tahu bagaimana melanjutkan isi suratku ini padamu. Ada sebuah bahasa hati yang ingin kusampaikan untukmu, tapi sungguh semuanya terasa kelu. Membeku!!

Mereka bilang pemimpin negerimu bermaksud memerintah seumur hidup ya?
Maafkan….aku tak begitu faham bagaimana berita dan cerita sesungguhnya. Permohonanku sederhana, aku hanya ingin keluargaku pulang ke negeriku dengan selamat sentausa. Itu saja!!!

Engkau tahu, bahwa aku juga pernah bermimpi bahwa suatu masa kelak aku akan menjumpaimu. Berfoto di sisi Piramida, yang gambarnya selalu berwarna lempung itu. Lalu berlari diantara Spinx. Aku masih ingat nama itu. Dulu aku pernah menghafalnya. Negerimu indah sekali. Meski panas dan gersang. Negeri yang diimpikan jutaan anak manusia. Termasuk aku, si gadis udik dari negeri pedalaman.

Namun, kala aku membaca kabar dari keluargaku disana. Aku menjadi takut. Aku jarang menonton televisi. Karena di wisma memang tak ada. Kadang kala saat subuh aku menyetel radio dari ponsel, atau kadang aku membuka dan membaca beritanya di google. Dan berita itu selalu membuatku berduka.

Mataku sembab setiap membaca berita dari Udo Yamin. Oh ya, apakah engkau mengenal Udo Yamin? Ku harap engkau mengenalnya. Atau kalau kau memang tak mengenalnya aku akan mengenalkanmu. Beliau adalah salah satu keluarga Indonesia yang tinggal di sana, pelopor Pusat Kecerdasan Kata (Word Smart Center). Sudah berkeluarga.

Meski aku belum pernah berjumpa dengannya, namun beliau sudah seperti saudaraku sendiri. Dan sepertinya kemungkinan untuk berjumpa pun sangat kecil. Karena memang perbedaan benua. Entahlah, kecuali takdir berkata berbeda. Semoga Allah tetapkan takdir terbaik untukku. Untuk kita semua. Dan aku percaya itu.

Engkau tahu, aku boleh bercerita ya. Barisan kata yang beliau susun mengenai kondisi di negerimu di layar monitor selalu menghentakkan dadaku. Deretan huruf dan kesaksiannya tentang suasana negerimu semakin membuatku takut untuk menjumpaimu. Di sana di dalam deret hurufnya beliau menuliskan ungkapan yang panjang tentangmu. Sebuah kondisi yang membuat hatiku membiru. Hingga pada sebuah pernyataan baris kata ini jantungku bahkan berdebam. Keras sekali. Seperti jatuh dari suatu tempat yang tinggiiii. Dan sakit!! Beliau tuliskan demikian,

“Aku tidak takut dengan tank berlapis baja di jalanan Cairo… aku tidak cemas dengan peluru besi kaki tangan Husni Mubarok… aku juga tidak khawatir tentara berbadan tegap yang menembak demonstran itu… satu yang aku takutkan adalah… ketika ada WNI berhati batu!”

Kabar itu….

Kabar Itu…
Sangat….
Yah, lebih tajam dari pisau pengiris daging yang pernah aku lihat.
Lebih pahit dari pil sakit demam yang pernah aku telan.
Lebih curam dari jalan senami borlapan yang pernah aku susuri.

Lebih dalam dari paku tembok yang pernah menusuk kaki kananku

Bahkan lebih perih dari luka yang disiramkan cuka padanya.

Sesungguhnya aku malu bercerita padamu tentang hal ini. Tentang kondisi bangsaku. Bagaimana tidak, salah seorang atau mungkin lebih dari mereka bangsaku mengkhianati saudaranya sendiri. Melukai merah dan putihnya sendiri. Mengiris jantung hatinya sendiri di tanah orang lain. Di negeri yang tengah cemas. Di negeri asing. Mengapakah hal itu harus terjadi? Kepada siapakah suara permohonan pertolongan itu disuarakan jika tidak padanya, bangsanya sendiri. kepada siapakah jeritan itu dihantarkan kalau tidak padanya, saudaranya sendiri. Lalu bagaimana mereka akan bersuara bila ternyata telah dikhianati oleh negerinya sendiri???

Rupanya aku semakin tahu, betapa harga keadilan sudah sangat sulit kucari dinegeriku. Kekuatan, kekuasaan, dan rupiah telah menjadikan harga keadilan semakin murah. Terobral begitu saja. Dan aku nyaris semakin yakin bahwa harga keadilan itu bahkan seolah tak ada lagi harganya. Mati rasakah duhai engkau bangsa di negeriku?

“Bagi saya, kapan pun isteri dan anak saya berangkat, tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah mengapa ketika mau meng-cancel nama isteri dan anak kami, tidak memberitahu kami. Ini sudah terjadi dua kali. Dalam waktu yang sama ada gadis/bujangan berangkat dengan lenggang kangkung!!!”

Duhai negeri, dimanakah kau letakkan rasamu. Dimanakah kau letakkan janjimu? “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Mari duduk sejenak dan rasakanlah dengan hatimu. Bila rasa itu bisa dijadikan rupiah apakah kiranya engkau kan menukarnya dengan rupiah? Bila tepaslira bisa ditukar permata apakah kiranya engkau kan menggadaikannya? Bila keadilan itu bisa digantikan dengan berlian apakah kau juga akan menjualnya. Bila memang demikian adanya, maka jangan pernah mengutuk bila pada waktunya tak akan ada lagi kata saling menghargai satu sama lain. Jangan pernah menyalahkan bila tak ada lagi kata saling memaafkan. Karena engkau sendiri yang telah mengkhianati negerimu.

Dear Udo, istri dan pengeran kecil Udo nun jauh di sana. Bila saja aku bisa membelikanmu pesawat udara, tentu tak perlu Udo dan keluarga menunggu lama. Juga tak perlu Eyang bermuram durja. Tapi beginilah kondisinya. Dan aku yakin Udo faham, bagaimana kondisi bangsa negeri kita. Selalu saja ada yang hitam. Begitulah.

Hanya do’a yang kumiliki disini. Juga sekumpulan kata-kata dan harapan.
Aku tuliskan dan kirimkan ungkapan ini pada Udo dan seluruh keluarga Indonesia yang masih berada disana, aku ingin Udo tahu bahwa kami disini semua mendoakanmu. Semoga Allah lapangkan jalan, bentangkan sajadah pertolongan bagi Udo dan keluarga di sana. Seluas-luasnya. Hingga Udo bisa kembali kesini. Ke Indonesia. Negeri kita. Dengan selamat sentausa. Semoga saja kata sederhana ini, membuat Udo semakin yakin dan tentram di sana juga ketika kembali ke Indonesia, bahwa kepedulian itu masih ada. Di negeri kita. Setidaknya.

Salam khidmat dan do’a tulus.

Indonesia yang menantimu

Evi M Negeri Melayu Jambi.

5 responses to “Surat Untuk Negeri Piramida

  1. Barisan kata-kata yang menyiratkan jutaan makna berhasil membuat merinding tubuhku, begitu pili, menyesakkan…seakan aku merasakan kegundahan yang sama..bergetar dan meneteskan air mata,, begitu tulus doa itu, semoga saudara sebangsa turut mendoakan WNI yang ada di sana dan semoga kepedulian itu tidak hilang dari jiwa-jiwa manusia.

    dear@ kk evi
    tulisa-tulisan kk tak bosen-bosan ta baca…ta sangat bangga bisa mengenal kk n sangat bersyukur telah di pertemukan Allah dengan seseorang yang sangat inspiratif sehinga semangat ini kembali berkobar.TETAPLAH BERKARYA….KARYA ITU HARUS TETAP HIDUP…kalaw dah di terbitin cerpen, novel n karya2 kk yang lain ta duluan yang baca ya he……^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s