Hai Kawan! Aku Tunjukkan Sesuatu Padamu

 

Menjadi Manusia Baru

Kepakkan Sayapmu Meski Lemah Hai, kawan!

Aku ingin mengajakmu bermain hari ini. Sebuah permainan yang akan membuat kita berbahagia. Permainan sederhana. Tak begitu sulit. Kau tak perlu sakit mata karena berlama di depan layar monitormu. Tak perlu pula sesak hati karena harus saling memusuhi. Tak perlu. Karena kita akan bermain kata di sini. Pada kesempatan ini. Yah, sekarang. Juga!

Hai Kawan,

Apakah engkau pernah gagal? Ha, ha, izinkan aku tertawa sejenak kala engkau mengatakan bahwa engkau manusia yang selalu gagal. Tak apa itu biasa kawan. Jika kita tak gagal maka bisa jadi kita berasal dari golongan yang non manusia. Hi, hi aku tak mau mengatakan apa. Silahkan kawan memilihnya sendiri.

Begini kawan. Sebenarnya hidup kita itu sederhana dan tak begitu sulit. Kawan memulai sesuatu dengan bermimpi. Memulai sesuatu dengan sebuah keinginan, ingin demikian dan demikian. Menjadi dosen, professor, doctor, pengusaha sukses, kaya raya de-el-el. Atau yang lain. Ya tak apa. Itu hak kalian kawan. Dan mudah saja kawan. Syaratnya cukup kawan berusaha dengan keras. Lalu bertahan dan nikmatilah. He…selesai.

Kalau mau tahu kawan, siapa yang paling banyak gagal bila kita bercerita berdua saja. He…2 mungkin engkau akan menjauh dariku dan enggan berteman denganku. Mengapa? Bisa jadi engkau khawatir akan terkena penyakit gagalku. Iya, karena aku mengalami banyak kegagalan dalam hidupku. Tahukah kawan, ketika aku menuliskan mimpiku dalam hatiku untuk menjadi jawara ilmiah dalam even nasional aku terlebih dahulu harus mengalami puluhan kegagalan untuk melatih tanganku agar aku terbiasa menyusun huruf dan lebih dekat dengan kata-kata, dan itu telah ku mulai sejak aku berlatih menulis cerpen sederhana saat kelas lima SD kawan. Tahukah kawan, bagaimana isi cerpenku saat itu? Kalau saja engaku membaca cerpen itu, kupastikan engkau pasti terbahak membacanya lantaran ia sangat menggelikan. Berpuluh kali aku menuliskan kata “saya adalah, saya adalah, saya adalah” dalam buku bercover pink bergambar kucing lucu berpita. Hingga akhirnya kini aku bisa menjawab tulisan itu kawan bahwa “Aku adalah….”

Kawan kalau engkau bertanya bagaimana nikmatnya sebuah kesuksesan padaku, maka ku harap segeralah menjauh dariku. Karena aku tak akan menjelaskan apa pun padamu kawan. Kawan kemarilah dan lihatlah disekitarku, maka engkau akan tahu siapa aku sebenarnya. Yang indah di mata tak sedemikian sejatinya. Kalau engkau melihat lebih dekat, aku bisa memastikan engkau bisa saja enggan bermain denganku, karena engkau akan tahu dari mana asalku. Siapa keluargaku, bagaimana lingkunganku. He2.., aku tak akan melarangmu untuk berlari menjauh dariku kawan. Karena memang itulah adanya.

Kawan, hidup ini sederhana. Terlalu sederhana untuk di biarkan begitu saja. Terlalu sederhana untuk ditakuti. Terlalu sederhana untuk disesali. Dan bahkan terlalu sederhana untuk kau lamunkan begitu saja. Kawan bila saja kita tahu berapa lama sang Pencipta beri kita garansi usia, aku memastikan kita akan hidup dalam kecemasan, atau mungkin juga berada dalam jalur kebaikan secara terus menerus. Namun tidak demikian adanya kawan. Mengapa Tuhan Sang Pencipta tak pernah mengabarkan pada kita kapan Ia akan memanggil kita kawan? Mengapa Allah membiarkan kita hidup tanpa tahu kapan Ia akan mengambil diri kita. Yah…, Tuhan ingin kita hidup dengan harapan, harapan untuk hidup di masa depan, harapan untuk berbuat hari ini untuk hidup di masa yang akan datang, dan harapan untuk terus berusaha dan mencoba. Tuhan mau kita belajar dari kesalahan untuk kemudian memperbaikinya. Tuhan ingin kita mencoba dan untuk kemudian menyiapkannya. Menyiapkan diri untuk berani bersyukur dengan lebih besar. Pun sebaliknya untuk berani menerima dan pun bersyukur dengan jauh lebih besar. Karena sejatinya tugas kita sebagai manusia yang menumpang di dunia adalah Meminta kepada Tuhan, Rabb semesta Alam, memantaskan diri untuk menerima lalu menerima dengan kesyukuran. Begitulah kawan…

Kawan aku teringat pada sebuah tulisan karya Bapak Motivator ternama itu (Mario Teguh). Aku percaya engkau mengenalnya kawan. “3 Tugas utama kita sebagai kekasih Tuhan” yakni seperti yang aku tuliskan pada cetak tebal di atas kawan. Lalu kelanjutannya adalah Meminta lagi yang lebih besar, memantaskan diri untuk menerima yang lebih besar, dan menerima dengan kesyukuran yang lebih besar. Karena 3 yang pertama akan memantaskan kita bagi 3 berikutnya yang lebih besar. Meminta, memantaskan diri, dan menerima dengan kesyukuran.

Itu saja kawan. Sederhana bukan.

Begitulah kawan, kita hanya perlu untuk belajar, memperbaiki diri dan terus mencoba. Hingga pada akhirnya bersyukur. Apa pun hasilnya kawan. Jika kita sangat siap untuk menjadi pemenang maka kita juga harus mempersiapkan diri dengan kesiapan yang sama besarnya ketika kita mendapatkan apa yang tidak sesuai dengan rencana kita kawan. Itulah sejatinya tugas kita sebagai kekasih Tuhan kawan. Terus belajar tiada henti.

Kawan, bila hari ini engkau belum melihat definisi dari kegagalan yang tengah engkau hadapi, maka bersabarlah kawan karena Allah Sang Pencipta tengah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih indah kawan. Percayalah! Mengapa kita harus percaya? Karena faktanya tidak demikian? Mungkin kawan mengatakan demikian, silahkan kawan. Itu hak mu kawan. Tapi bila engkau meminta pendapatku tentang hal ini, maka maafkan aku kawan, karena aku tak akan memberikan dukungan apa-apa tentang pendapatmu. Bahkan aku tak akan menghiraukanmu tentang hal itu. Tidak sama sekali. Maafkan aku kawan. Bukan aku tak berkenan untuk bersahabat denganmu. Juga bukan karena aku membencimu kawan. Bukan sama sekali, tapi karena aku telah memegang teguh janji Tuhan padaku kawan, Janji Sang Pemegang Janji kawan. Janji Sang Maha Pemilik Alam. Tuhanku kawan, tuhan kita kawan. Tuhan jagat Raya kawan. Allah kawan.

Kawan, bila kita termasuk yang telah berjalan jauh dan teramat letih karena terlalu banyak kegagalan. Bolehkah aku mengulurkan tanganku padamu kawan. Perkenankan aku berbagi kawan. Aku ingin mengajakmu duduk sejenak kawan. Aku akan tunjukkan sebuah kata kawan. Kata yang kujanjikan padamu seperti pada paragraph awal saat aku menuliskan ini padamu. Kata yang membuatku bertahan kawan. Hingga saat ini setidaknya. Dan pada masa yang akandatang, insya Allah. Kata yang akan mengubah dunia kawan. Duniamu, dunia kita kawan.

Kawan inilah kunci janji Tuhan yang membuatku percaya bahwa Tuhan tidak pernah berdusta kawan. Inilah kalimat yang membuatku terus bertahan saat aku belajar menerima puluhan kegagalan yang pernah aku alami kawan. Kalimat inilah yang menyelamatkanku kawan, dan kalimat inilah yang selalu melahirkan aku menjadi manusia baru pada tiap detik-detik waktuku kawan. Inilah…, untukmu kawan. Yang istimewa bagiku.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”

An-Nasr (110: 1)

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan),

tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),

Dan hanya kepada Tuhanmulah engku berharap.”

(al-syarh (94 : 5-8)

07022011 EviM

 

 

 

 

9 responses to “Hai Kawan! Aku Tunjukkan Sesuatu Padamu

  1. mantap…mantap…mantap….
    terus kembangkan kreatifitas kita….selalu.
    apapun bentuknya, bagaimana pun caranya,,masing-masing kita memiliki sesuatu yang berbeda untuk sebuah kreatifitas. mari tetap berkarya.

  2. Aku baru membaca kalimat terakhir. Kak Evi, kau membuatku haru. kata-katamu bermuatan motivasi. ku tahu setiap kalimat yang kau tulis, berasal dari jiwamu yang telah begitu matang dengan berbagai masalah hidup ini. kak evi, kau berhasil membuat semangatku berapi-api. kak evi luar biasa! aku tidak bisa tidak kagum pada kakak. ah, apa aku lebay mengatakan itu?
    kakak, doakanlah aku….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s