Tentang Keajaiban…

Bismillah…

Baiklah…

Selembut Keajaiban Itu

Selembut Keajaiban Itu

Keajaiban Itu..

Meski dengan rasa yang menghiba-hiba…karena sejatinya isi judul dari tulisan ini telah rampung kuselesaikan pukul 10.00 WIB tepat. Telah siap terbit di kolom ini. Namun apa daya, tiba-tiba saja hilang. Dan saya benar-benar lupa untk mengcopas atau sekedar mengcopi pada kata “copy.”

Baiklah kawan, meski dengan cukup tertatih mengumpulkan kata-kata yang telah kurangkai *meski tak cukup sama dengan isi yang awalannya. Minimal ini membuatku lega. Karena telah menuangkannya. Dan keajaiban pun akan menyertainya. Hi3…karena aku baru saja menyelesaikan tangisku. Mencoba mengubrak-abrik seluruh dokumen dasbor. Barangkali ada tersimpan di konsep. Dan ternyata memang demikian adanya. Aku tak menjumpainya. Rabb…Ajarkan padaku cara sederhana menumpah kata “Syukur.” Yah mungkin dengan begini aku akan lebih banyak belajar menjelajah kata. Dengan lebih banyak. Dan semakin banyak.

Baiklah Kawans…

Tulisan ini terkadang melambai penuh semangat yang membuncah-buncah. Meski temanaya bernada meloww🙂, berlatar belakang instrument yang menyertainya. Berlatar belakang Ello dengan buka semangat barunya dan Kevin Kern dengan instrument Sundial Dreamnya.

Kawans…

Tahukah engkau seperti apa rasanya rindu dengan kata. Seperti bayi yang merindukan ibunya? Seperti kucing kecil yang kehilangan induknya. Seperti apakah. Ah…aku tak begitu tertarik untuk mendiskusikan lewat panjang kata. Tapi inilah yang kurasakan, sudah beberapa hari lamanya aku tak menuang kata. Ia telah lama berlompat-lompatan dalam benakku. Menari-nari dan menjahil nakal padaku. Meminta jari-jariku untuk segera menuangkannya.

Tak tahulah. Tapi begitulah…

Aku mencintai kata dengan bait makna yang terkandung di dalamnya. Mencintai merangkai huruf hingga menjadi bak karangan bunga. Hanya ingin berbagi. Itu saja tak lebih. Semoga saja petikan kisah ini kelak bermanfaat pada masanya. Ketika tak kuasa aku melarang-Nya. saat aku harus kembali menghadap-Nya. dan saat itu pulalah aku berharap ini akan bermakna bagimu.

Kawan, sekiranya engkau masih mampu berbagi kebaikan. Maka tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Terus tanamlah sebanyak yang engkau bisa dan engkau mampu. Jika belum mampu maka cukuplah berdoa atau diam saja. Tak perlu menambah panas kata atau semacamnya.

Kawans, tahukah engkau bahwa kata itu ibarat air. Bila kita menuang kebaikan didalamnya, maka ia akan mengalir jernih dan bening. Dan engkau tentu menyukainya. Pun sebaliknya jika engkau menuang kata yang keruh, ia hanya akan menampilkan kekeruhan bagi yang lain. Dan tak ada yang hendak bahagia dengan air yang keruh bukan…? Maka tuangkanlah air kata kebaikan selagi engkau mampu menuangkannya. Jika tidak maka berdoalah, atau diamlah.

“Berbuat baiklah dimana saja engkau berada”

sayangi-ibu
sayangi-ibu

Kata itu mengkristal dalam hatiku. Kata yang menemani keberangkatanku meninggalkan tanah lahirku. 7,5 tahun yang lalu. Kata yang diselipkan oleh wanita yang tak pernah memiliki ijazah dalam sejarah hidupnya. Dan kupastikan tak akan pernah memilikinya. Wanita yang kisah cintanya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. wanita yang tak tamat sekolah, yang hanya mampu mengeja kata latin dan arab. Dan meski demikian. Ia begitu istimewa. dimataku. Dimata kami. Putra-putrinya. Dan aku bangga memiliki wanita itu. Aku bangga kawan. Dialah yang menghantarkanku dan saudara-saudaraku menjadi seperti saat ini. Dialah ibuku.

Kawan percayakah engkau, bahwa keajaban berbanding lurus dengan kebaikan yang kita tanam. Bila saja ia hadir tidak untuk saat ini, bisa jadi ia akan datang esok lusa, tahun atau entah kapan saja. Ia datang tanpa di sangka-sangka. Dengan penuh keajaiban! Tak terduga.

Kawan, pernahkah engkau mendengar kata keajaiban! Sebuah kata pamungkas bagi para korban putus asa. Sebuah kata yang menguatkan bagi yang terjepit. Inilah kisah nyataku yang membuatku semakin percaya akan keajaiban!!!

siang itu beberapa pesan duka bertandang pada inbox ponselku ku. Diantaranya pesan dari adik tingkat binaku yang mengabarkan bahwa Ibundanya tengah sakit, juga pesan adik privatku pamannya yang juga di rawat di RS, lalu adik sepupu rekan prodiku yang akan dioperasii, dan terakhir adik tingkatku yang baru saja kecelakaan.

Kawan, bagaimanakah rasanya bila pesan duka itu menjumpaimu. Yah, mungkin pada awalnya engkau akan terkejut mendengarnya. Lalu mengirimkan pesan do’a. Minimal itu yang hendaknya kau lakukan. Namun jika engkau mampu berbuat lebih, maka lebihkanlah kebaikanmu. Karena saat engkau menanam. Sesungguhnya engkau juga tengah menanam kebaikan bagi dirimu sendiri.

Setelah memilah dan membongkar daftar agenda harian. Dan kupastikan tak ada agendaku yang lebih penting dan mendesak. Aku memutuskan untuk membantu menemani adik binaku. Alasannya cukup sederhana. Sebuah bayangan pertanyaan yang melayang di benakku, “Bila saja salah seorang keluargaku mengalami hal yang serupa sementara aku tak berada di sisinya maka siapakah yang akan menggantikan posisiku untuk menemaninya saat itu?”

Alhamdulillah…, singkat kisah setelah beberapa hari lamanya. Ibu dari adik binaku tersebut telah diizinkan untuk pulang ke rumah. Di rawat dan berkumpul bersama keluarganya. Bukankah itu hal yang membahagiakan kawan…?

Dan aku merasa sangat lega. Lega sekali. Minimal telah kutunaikan apa yang mampu untuk kutunaikan saat itu.

Dan saat aku bermaksud untuk mengunjungi adik tingkat yang terkena korban kecelakaan saat itu pula suara ponselku berdering. Ibuku memanggil..

Singkat kisahnya…

“Nduk, ada kabar musibah Nduk..” Mengambang…

“Innalillah…ada apa Mak..?” Tanyaku

“Adikmu kecelekaan, jatuh dari motor sama temannya pas pulang dari Palembang.” Jelasnya

“Terus sekarang dimana Mak, gimana kondisinya.” Aku bergetar!

“Adikmu pingsan waktu itu, jadi mamak jemput. Alhamdulillah ndak ada luka apa-apa.” Jelasnya.

“Mau ngomong sama adikmu.?” Lanjut Mamak..

Aku menyerobot bertanya ini dan itu. Dan

adikku masih dengan suara ceriwisnya. Suara segarnya yang selalu membuat rontok telingaku. Bertanya ini dan itu.

“Jadi aku yo ndak tahu to Mbak, aku ki pingsan. Ndak sadar. Jadi pas aku kecelakaan handponeku bunyi. Mamak telp, terus diangkat orang telpnya, Dan nasih kabar kalo aku kecelakaan. Setelah itu yo, aku ndak tahu. O iyo mbk, gmana kabar lombanya, udah keluar belum..?”

Sampai di sana aku bergetar!!! Darahku mengigil. Aku menanyakan kapan kejadian itu…

Dan inilah jawaban atas keajaiban itu…

Peristiwa kecelakaan dan terhempasnya adikku dari motor yang diboncengkan temannnya. Tepat terjadi saat aku tengah mengusap dada ibu adik binaku yang tengah meregang sesak nafasnya. Saat ia mengalami rasa sakit pada aliran pernafasannya. Saat aku membisikkan lafaz istighfar padanya. Dan saat itulah keajaiban itu terjadi. adikku terpental, pingsan tak sadarkan diri. Dan…

Sebuah panggilan dari ibuku melalui ponselnya yang kemudian diangkat oleh orang yang membantunya. Mengabarkan kondisiya dan merawatnya.

SubhanAllah…

Tak ada luka, semuanya kembali normal.

Baik-baik saja.

Alhamdulillah…, terimaksih ya Allah…

Atas jawaban keajaiban yang Engkau titipkan padaku.

EM Keela Al-ardvici

18 Feb ’11

Di sela-sela kesibukan semangat merentas data thesisku🙂

2 responses to “Tentang Keajaiban…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s