Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Negeri Sejuta Pesona *Babak 1

sungai-batanghari kala senja

Aku tinggal di negeriku. Negeri Melayu. Nan indah dan permai. Mempesona. Negeri kecil di pinggiran riak sungai Batanghari. Sungai terpanjang pulau Sumatera. Kisahnya, kata Ibu, aku berdarah jawa, Bapakku juga orang Jawa. Tentu saja almarhum eyang kakung juga darah Jawa.

Sejak kecil aku selalu bermimpi. Bila saatnya aku terbang di Pulau seberang sana. Tanah darah ibuku. Berkeliling dan berlari di bukit-bukit lereng sawah yang menghampar hijau. “Masak yo Mamak ki, jarene aku wong Jowo, tapi kok rak pernah reng Jowo.” Sungutku pada Ibu saat itu. Saat kelas satu seragam merah putih untuk pagi hari—dan seragam putih hijau di siang hari—plus seragam baju muslim bebas di sore dan malam hari. “Ah masa kecilku, indah dan penuh semangat menggali ilmu.”

Satu waktu aku sampai di sana. Ha2, meski rasanya itu tak mungkin. Duluuuu. Karena sekarang telah kujelajahi negeri darah Ibu dan Bapakku itu. Belum semua memang. Satu waktu Pasti AKAN. Insya Allah. Aku percaya itu.

Kini, waktuku. Inilah negeriku. Negeri Jambi. Tanah Melayuku. Hayoo, adik2ku, teman-temanku sanak saudaraku, siapa yang belum kenal Jambii???? “Saya—Saya—Saya—“ He2, jujur saya senang sekali kalo banyak yang bilang saya belum tahu. Karena itu berarti banyak kesempatan bagiku tuk bercerita tentang negeriku.

Mulai kususuri negeri Melayuku ini. Tepat saat usiaku 13 tahun. Saat itu masih segar Jambi. Hutan terkembang menari-nari di sepanjang jalan. Padi di tanah Bulian hijau menghampar. Kota Thehok cantik sekali. Kecil dan mungil. Imut sekali. Nah, tepat di persimpangan empat jalan menuju Bandara ada patung yang sedang menari “Sekapur Sirih.” Itu penuh sejarah. Dan selalu menjadi tari persemabhan bagi tetamu yang singgah dan hadir di Jambi.

Patung Budaya "Tari Sekapur Sirih"

Hal yang paling menyenangkan adalah menyusuri sungai Batanghari. Sejak dulu sampai saat ini, aku selalu menyempatkan diri dari waktuku tuk menyusuri sungai itu. Sekedar duduk makan jagung bakar bersama adikku, menikmati sate Padang atau hanya duduk menikmati matahrai sore. Meski pernah tertangkap polisi. Gara-gara mau nemeni cari data Mba’e Eni, he2. Saat itu beliau cari data responder tentang ide pembuatan wisata Apung. Lupakan saja. Itu kenangan manis kami berdua.

Sungai Batanghari selalu ramai. Apalagi di sore hari. Aku paling suka duduk di bawah pohon nyiur sambil cerita tentang mimpi-mimpi kami sama adikku “Adik kamarku” selalu seru dan meriangkan hati. Dari sungai itu banyak kutuliskan cerita ku dimasa depan. Dari sungai itu banyak ku tuang mimpi-mimpiku esok hari. Dari sungai itu pula aku banyak bercerita. Tentang apa saja. Dengan riang.

Negeriku penuh petatah dan petitih

Bekal perjalanan menyusuri hari

Mengingatkan hati

Bila terjatuh diri

Mengutkan langkah saat menyerah

Negeriku nun Kecil

Kecil, kecil nan elok

Elok-elok nan permai

Bila ku kelak terbang jauh

Percayalah

aku pasti kan kembali

Insya Allah ya, aku pasti kembali

Karena di sinilah aku meng “oeekk”

 

“berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas,

naik dari takak nan di bawah”

“Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah,

jangan sampai kanti meludah,

jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.

 

“Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku,

Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.

 

EM Keela Al-Ardvici

^_^

*Saat rindu menulis

2 responses to “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

  1. Asslmlkm … subhnallah , kata-kata nya udah kayak novelis aja.. Hehe !!
    Pa kbr kak.. bsa d kmbangin tuh hobi nulisnya … Semangattt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s