“Ruang Rinduku”

Aku hanya mengikuti apa yang diinginkan hatiku. Menyusun bait-bait kata tuk jadi serangkaian kalimat. Pagi ini jiwaku bergetar, saat kuteringat akan mimpi-mimpiku. Meski mimpi itu akan sangat berat. Berat sekali. Tapi hatiku semakin yakin, bahwa aku telah mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupku. Keputusan yang akan kuperjuangkan. Sebuah semangat tuk turun di medan itu. Pun ketika aku belum mencapainya, aku tak akan kecewa. Karena itulah impianku.

Aku teringat pada sebuah nasehat dari sahabtku nun jauh. Meski aku tak tahu seperti apa nyatanya. Aku hanya berbaik sangka pada setiap gerakan petuah-petuahnya. Karena aku yakin, akan kupergunakan petuah itu pada waktunya. Saat aku mengalami sebuah kenyataan.

“Jawablah sesuatu dengan hati, ada dimana hati kita diantara keduanya—Bila mana engkau jatuh meski pada jurang curam terdalam sekali pun setelah menjalani pilihan itu, kita akan masih bisa tersenyum untuk meraihnya. Karena hati dan tujuan kita ada di sana.”

Pagi ini aku membenarkan petuah itu, kutuliskan disini. Dalam ruang ini. Ketika aku telah meyakini dengan segenap Bismillah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Juga impian-impian yang telah kutata. Aku tak boleh berhenti sampai di sini. Masih ada tempat yang harus ku kunjungi. Sebuah tempat yang selalu menari-nari dalam benakku. Muncul pada malam tidurku.

Ukiran indah dan taman bunga pada halaman itu selalu menghantuiku. Pun bocah kecil, berkerudung putih yang selalu tersenyum menatapku pada layar monitorku. Juga Bayang-bayang dua gadis dengan tas di tangan itu selalu menari-nari dalam benakku. Pada langkahku. Pada setiap gerak-gerak jalanku. Aku merindukan pertemuan itu. Aku merinduka suara itu. Suara yang selalu menemani subuhku. Suara yang selalu menggema dalam jiwaku. Terus dan terus. Aku ingin bertemu dengan pemilik suara itu. Pada waktunya. Waktu yang tepat. Tentunya. Dan meski aku tak tahu kapan itu akan terjadi. Aku hanya bisa merencanakan. Pada sebuah tahun di mana ada gadis kecil yang akan menemaniku tuk menemui suara itu.

Aku yakin terhadap pilihanku ini ya Rabb. Maka hanya sebuah ridha-Mu saja itu harapku. Agar kelak bisa kusampaikan pada orang terbaik yang menemani langkahku. Akan kusampaikan padanya sebuah impian yang telah kuputusakan dengan segenap hatiku. Pada mereka yang mengiringi langkahku, tuk mencapai impian itu. Sebuah kata–“Aku telah sampai pada impian itu, Ibu…, dan kau sahabatku.” sebuah ungkapan yang aku sampaikan dari dasar hatiku–hingga aku tak mampu menahan suka citaku padanya. Ibu dan sahabatku—

EM Keela

*Bismillah—-3 Mar 11

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s