Gelas Kosong

“2 Kata itu aku suka. Mengapa? Karena aku memang suka
Cukup aku memanggilnya, maka ia kan menjadi temanku”

Jambi romantis hari ini, mengapa? Kiranya langit tak marah-marah. Panas tak, dingin pun tak…Cerah campur sejuk. Dan aku suka itu. Persis seperti gelas kosong yang secara suka rela membiarkan tanganku menumpahkan air bening ke dalam gelas kosong itu.

Pertemuan hasil diskusi bersama Pak Agus menambah inspirasi hari ini. Selalu begitu. Selalu saja bahkan! Aku tersenyum memandang rumput hijau yang berjemuran saling berdesakan di depan lapangan BAKKPSI. Sembari sesekali fikiranku terbang melesat mengingat gedung tempat ngumpul anak-anak kukerta. He2…anehh…

Sedikit gontai aku berlari mengejar tempat pengambilan formulir pendaftaran wisuda di ruang Bakpsi. Selalu saja pengap. Aroma asap rokok yang tidak ku sukai. Sangat tidak aku sukai. Kutekankan sekali lagi. Sangat tidak aku sukai. Menyembul dan menerobos masuk berkeliling diantara jilbab putihku. “Huuuffftttt, selaluu…., Rabbiiii, mengapa harus ada manusia yang “bagaimana” menjelaskannya. Entahlah, kurasa dengan tulian bertanda kutip itu cukup untuk menerangkan bagaimana merana dan sengsaranya nafasku saat harus berjumpa dengannya.

Sekali Lagi!!!! Aku bertemu dengan seorang Bapak penjaga formulir. Dan kali ini lebih parraaahhh “PullllllLLL, Pulllll,,,” Masya Allah…aku segera menarik lembar kertas itu dan segera berlari meninggalkan ruangan yang “memabukkan jantungku itu”

Entahlah, begitulah…
Aku tak tahu, meski seharusnya aku cukup tahu dan harusnya memang tahu. Meski Bapak kesayanganku juga seorang perokok kelas berat, tapi aku tidak pernah marah atau membenci Bapakku yang sudah semakin tua dan keriput itu. “Aduuh Bapak, sudah semakin tua sekali, semakin keriput dan rambutnya semakin memutih, akan tetapi kebiasaan buruknya belum juga hilang.” Tapi itulah Bapakku, manusia nomor satu yang paling bagga kepadaku. Sekecil apa pun prestasi yang aku berikan kepadanya. Ia selalu menghargai semua bentuk usahaku. Bapaaakkkk. Begitulah, manusia perokok, yang nampaknya tidak aku jauhi secara teroris adalah Bapakku. karena satu-satunya yang merokok tapi tidak pernah mau didekatku, karena beliau tahu bahwa aku sangat tidak menyukai orang yang perokok.

Dan akhirnya…
Satu hal yang selalu membuatku menari-nari setiap kali menjejakkan kakiku tepat di depan pelataran kampus biru itu adalah, perlahan aku menarik nafas…kuhembusakan dengan lembut.. “Thank Allah…, I will arrive soonly, insya Allah” dan itu membuatku tersenyum, apalagi kenangan duduk melingkar bersama adik-adik juniorku di Taman bunga itu. Tak henti-hentinya berjoget nakal di mataku. Aku tersenyum…Thank Allah, one more. Thank You, thank a lot…

Tangga FKIP menuju ruang akademis. Tak pernah berubah. Bahkan belum pernah berubah. Masih saja ramai. Tapi tidak untuk pagi itu. Sepi. Aku berlari meraih kursi panjang yang menempel di dinding tembok. Meletakkan tas berisi berkas-berkas, laptop dan beberapa lembar uang di dalam dompet pensilku yang bercorak batik jawa itu. “Sepi banget kak, siapa yang baru ujian.” Aku bertanya nyerocos pada Kak Aulia. “Iya Evi, sepi pagi ini, entah itu siapa, kak Nurul kalao gak salah.” Aku cuma menganguk dan sesekali memandang beberapa kakak seniorku yang tengah asyik berceloteh bertiga. Pria semua. Dan aku mengenal meeka dengan baik. Selalu begitu. Barangkali memang aku yang ramah. Kekekekek

Hingga pukul 13.00 akhirnya aku bertemu Ibundaku. Mam Indri ^^ Thank mam, for everything…Belongs to mam Una. Dan…aku pulang, akhirnya.

Bluggg….

Bersambung–
Gelas kosong berhenti sejenak, memandangku dengan kuyu. Keningku berkerut. Kiranya?
Entahlah…

Untung saja kipas angin di kamar ghoosebump ku masih rela berputar-putar dengan tetatih.
Aku terpaku, melihat kamarku. Mati lampu. Wahhh..

EM Keela Al-Ardvici

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s