Untukmu, Kartini Masa Kini dan akan Datang

Untukmu, Kartini Masa Kini dan akan Datang

Dear Kartini…

Sengaja aku tulis surat ini untukmu, meski dengan bahasa yang tidak tertata rapi pun tidak pada padanan pilihan kata selayaknya sang penyair. Namun, aku berharap surat ini bisa membuatmu tenang disana bahwa kami, para kaum wanita Indonesia teramat menghargai perjuangan beratmu. Meski banyak juga yang kontroversi tentangmu. Ah…, aku tidak begitu pedulikan itu, karena yang terpenting bagiku bukanlah kontroversi itu, akan tetapi cukuplah “kami” mengenang semua kebaikan bakti perjuanganmu. Dan itu yang kufikir jauh lebih penting dan berguna. Karena aku juga enggan berdebat kusir tentang perselisihan.

Oh ya, aku hampir saja lupa kalau hari ini adalah hari istimewamu. Bahkan tepatnya aku tidak hampir lupa, tapi memang benar-benar tidak ingat sama sekali, jika tidak Ibunda yang mengingatkanku, tentang hari istimewa ini mungkin aku benar-benar melewatkan harimu begitu saja. Ah…, aku jadi malu padamu. Maafkan…

Dear kartini…

Hari ini kami begitu sibuk, sibuk sekali. Kesibukan yang membawa kami terbang menjauhi kebenaran, kesibukan yang lebih sering membawa kami larut dalam keramaian, pun juga kesibukan yang jauh lebih sering melenakan jasad kami tuk bermain-main dalam waktu yang lama. Waktu yang panjang. Kesibukan yang tak bermakna. Entahlah, rasanya kesibukan itu benar-benar telah menyibukkanku sehingga aku lupa untuk memaknai apa arti kesibukan yang sejatinya harus aku tunaikan dengan segera.

Aku tidak tahu, mau menulis apa tentang isi suratku ini padamu. Ku harap ketika engkau membaca suratku ini engkau dalam keadaan yang jauh lebih sejahtera, sejahtera dalam jiwa, jasad dan fikir. Aku juga berharap surat ini akan kembali mengingatkanku pada kesibukan hatimu yang tidak pernah berhenti terus menerus memikirkan negeri ini menuju pada terang dan indahnya warna-warni pelangi.

Sejujurnya, ingin betul rasanya aku bercerita banyak hal padamu, akan tetapi karena tak terlatih diri ini tuk berfikir keras ini membuat kami bersantai, lemah dan mudah menyerah. Sebaliknya justeru menghabiskan waktu dengan banyak berkisah tentang A dan B, yang tidak bermakna. Entahlah…, aku malu dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu.

Dear kartini…

Surat ini hanya sebagian kecil dari sebagian isi hatiku, hati-hati kami. Tapi tenanglah, kami akan belajar bak bulir-bulir padi. Yang akan terus tumbuh belajar menata diri, bersemaian di tanah luas, menghampar, membentang, menyejukkan pandangan. Kami akan belajar tumbuh kembali, terus menerus belajar memperbaiki diri. Karena kami yakin “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Tanah Melayu Jambi, 21 April 2011

Evi Marlina & Kartini Masa Kini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s