Catatan # 3 Pekan

Catatan # 3 Pekan

Jambi, 30 April 2011

Pagi ini aku kembali bisa menari di keyboard laptopku. Senang sekali rasanya. Setelah beberapa hari lamanya laptopku tiba-tiba mati total secara mendadak. Dan aku tak tahu apa penyebab matinya laptop kesayanganku ini. Tragis sekali. Fikirku. “Pasti karena virus Win-win 32 itu, atau barangkali terakhir kalinya aku menggendong ia saat di bonceng ukh. Risma, dan laptopku terhantuk motor atau apa ya..?” Aku mengingat-ingat, ah entahlah.

Umhh, aku tak begitu khawatir dengan matinya laptopku secara mendadak, yang membuatku melompat kaget adalah; pertama aku belum mengcopas editan terakhir revisi skripsi ke dalam Fd, kedua aku semakin melonjak kaget saat aku ingat tulisan novelku yang juga tidak ada back up file sama sekali, dan ketiga ini yang membuat aku sedikit berubah mellow, saat mengingat bahwa laptop itu ku beli dari pulus hadiah hasil memenangkan lomba menulis karya ilmiah Al-Qur’an nasional di tahun 2009 lalu.

“Oh…manisss, maafkan aku yang tidak menjagamu dengan baik”

Banyak hal yang ingin ku tulis saat itu, karena beberapa peristiwa seru tengah berlangsung dalam benakku, sayang sekali. Laptop tak bisa berkutik, menulis di buku aku malas sekali. Beberapa potongan memori beberapa hari lalu yang masih berkelabatan di dalam fikirku ku coba rangkai kembali. Meski tak seutuhnya sama.

 18    April 2011

 Tepat tanggal 18 April 2011 pukul 11 WIB aku melaksanakan Ujian akhir thesisku. Tertunda 30 menit dari yang dijadwalkan, ujian baru bisa dilaksanakan pukul 11.30 WIB. Itu adalah hari yang aku tunggu-tunggu setelah 1 bulan lamanya aku menunggu jadwal ujian tesisku yang tak kunjung hadir. Sudah 3 kali jadwal ujianku di cancel, dengan beberapa alasan.

Dan untuk yang ketiga kalinya aku kena marah besar dari Panitia Ujian skripsi. Sepanjang sejarah dalam perkuliahanku, baru kali ini aku kena marah dari seorang dosen, dipermalukan di depan pembimbing skripsiku. Oh…Rabb, kuatkan aku.

“Uhuuuy…, nyuaaamm2. SeRunya! Di marahi di depan dosen-dosen Terbaikku.”

Meski sejatinya, biasanya teman-temankuku akan menangis jika kena semprot. Karena kejadian ini sudah sering terjadi, banyak mahasiswa menangis oleh sikap dosen killer satu ini (yang kebetulan menjadi ketua. Panitia penerimaan pendaftaran ujian Skripsi)—di program studiku, untuk bisa ujian skripsi terlebih dahulu mendaftar di panitia ujian—semacam panitia khusus yang menghandle segala kebutuhan ujian—jadwal, kue, makanan dsb, semuanya di sediakan oleh panitia. Tugas peserta hanyalah menunggu jadwal ujian, memastikan dosen, menyiapkan infokus dan ujian. Tak lebih.

Dan, terkait masalah jadwal ujian itulah yang membuatku harus bersabar menunggu selama 1 bulan untuk sampai pada hari H. Padahala skripsiku sudah di ACC oleh PS sejak 21 Maret yang lalu. Dan tragedy berdarah itu pun terjadi.

Pada saat itu, sudah ditetapkan jadwal ujian pada hari H menjelang deadline akhir dari akademik universitas, namun karena beberapa hal jadwal tersebut di undur kembali, hingga ketua program menyarankan agar aku menghubungi penguji dan PS, dan jika semua penguji bisa hadir maka aku tetap bisa melaksanakan ujian. Setelah itu aku bisa melapor kepada panitia ujian.

Sore itu aku memastikan semua pnguji untuk bisa hadir pada sidang skripsiku. Dan memang aku sudah mengenal baik semua pengujiku. Mereka bersedia hadir pada hari H, tepatnya hari Rabu, 13 April 2011. Sehari sebelum hari H, aku melapor kepada panitia Ujian (Ketua panitia, yang berstatus sebagai Nonis).

DuaaaarrRRR, GleGarRRR….

Suara petiRrrrrrr itu menyengat syarafku.

“Kamu itu SOK-SOK an jadi mahasiswa, Nggak!!! Nggak BISA, itu namanya SOK.”

Astaghfirullah, aku benar-benar kaget setengah mati!

Mataku terhentak!!!

“Kok kamu baru lapor sekarang, besok pagi kamu ujian, jangan SOK pintar jadi mahasiswa !!!!”

Ya Rahmaan…

Ingin aku menjelaskan semuanya, tapi kurasa itu percuma!

Yah…

Hampir 5 hari yang lalu aku mondar-mandir mencari panitia ujian, dan tidak pernah ada di kampus, sedang di luar kota dan…

Tapi aku faham, bagaimana karakter “ibu” yang saat ini sedang menggelegak di depaku.

“Kamu tu, jangan SOK ya jadi Mahasiswa, mau ngatur seenak kamu.”

Aku masih saja diam, dan mencoba untuk tenang, tepatnya “jangan sampek nangis”

Di sana ada PS 2 ku, yang kebetulan juga ketua program studi, yang telah menyarankanku untuk tetap melangsungkan ujian jika semua penguji bisa hadir.

“Bu Inn si Evi itu na” Suara itu kembali menampar wajahku, kali ini dengan menghadap pada wajah bu Inn, PS 2 ku. PS yang begitu menyayangiku.

“Evi mau buat jadwal seenaknya, masak besok pagi mau ujian katanya, nggak bisa pokoknya, saya nggak mau tahu, kamu hubungi semua penguji kamu, dan ujiannya di batalkan besok pagi.”

DuaRRRR—JegLekkk!!!

Aku melihat mata Bu Inn, tapi tak mampu kuterjemahkan.

Dan aku tak hendak bertapi-tapian…

“Emm, oh iya Bu, tak apa-apa kalau begitu evi ujiannya rabu depan juga tak apa Bu, insya Allah nanti langsung evi hubungi semua pengujinya. Mohon maaf ya Bu.” Langsung ku ulurkan tanganku pada wajah MERAH nya dosen ketua panitia ujian itu, dan kucium tangannya. Lalu beralih pada bu Inn, dan beberapa dosen lainnya, yang saat itu juga sedang menyaksikan tragedy itu “Di ruang dosen program B. Inggris.” Hampir semua dosen menyaksikan kejadian itu. Aku menggaris bawahi disini. Inilah dalam sejarah hidupku kena semprot oleh dosen bahasa Inggris selama kuliah di Universitas Jambi.

Mam Nor, menerima uluran tanganku dengan mata merahnya. Berang!!!

Aku mencium punggung tangannya dan langsung pamit pulang. Tak hendak menangis! Tak AKAN!

Aku pulang…

Allah…

Itulah sejarah dalam hidupku selama di kampus aku dimarah dan dipermalukan di depan dosen pembimbing terbaikku.

Aku menunggu hari Rabu, semua penguji telah kukonfirmasi ulang pada hari H. Dan semua sudah OK, akan tetapi apa yang terjadi. Mataku terbelalak!!!

***

Esok harinya, dengan semangat aku berlari menuju ruang akademik untuk memastikan jadwal ujianku Rabu depan. Tapi aku benar-benar kaget jadwal ujianku kembali berubah, menjadi hari senin, 18 April 2011, dipercepat.

“Masya Allah Mammm Norr” aku mengerang dalam hati.

Yah, itu artinya aku harus kembali mengkonfirmasi ulang semua penguji tentang perubahan ulang jadwal ini. Dan hal ini membuat para pengujiku “mulai terlihat bosan” dengan sikap plin-plan yang disetting ini. Oh..ya Rabb, aku tahu ini cobaan untukku. Aku tak boleh menangis!!!! Tak AKAN! INGAT ITU!

Malam itu 17 April 2011, aku sudah menyiapkan slide—berjumlah 87 slide— OMR “oh my Rabb” slide terpanjang dalam sejarah hidupku, selama puluhan kali aku melakukan presentasi. Aku membaca ulang tesisku dan memberikan garis bawah dengan pena merah, serta membalas ramainya pesan motivasi yang masuk dalam ponselku do’a dan semangat dari teman-temanku. Aku tidur. Pulasss sekali. Lebih pulas dari hari biasa. Malam hari aku terbangun, mati lampu. Hujan deras sekali. Aku tak bisa tahajud, Karen sedang udzur. “Mungkin hujannya sampai besok pagi.” Begitu fikirku.

***

Pukul 10 pagi aku sampai di kampus. Semua rekanku ribut. Menanyakan tentang baju yang aku pakai. Aku tersenyum geli. Semua diluar kebiasaan, biasanya ujian mengenakan baju hitam putih. Tapi hari itu, aku memakai gamis putih berpadu hitam dengan lis renda pita berwarna pink pada bagian dengkul, serta jilbab yang kupadu sesuai dengan warna renda pitanya.

Lampu masih saja mati. Itu artinya tidak akan ada infokus. Aku tak hendak bersibuk RIA. Biarlah semua berlangsung seperti air yang mengalir. Dan memang benar, aku presentasi tanpa infokus, 3 buah laptop pun dalam keadaan baterai lemah. MATI. “Nguuuuk” Suara laptopku melemah.

“Evi, how are you?” Semua penguji menanyakan kabarku, dengan pertanyaan yang sama. Seolah faham tekanan batin yang aku alami, akibat pencancelan dan kemarahan ketua panitia ujian skripsi.

Aku tersenyum. “I’m very happy mam, since this is so special moment. I waited in long journey.”

Mereka tersenyum menyambut jawabanku.

Semuanya berjalan apa adanya, aku tak begitu risau dengan semua pertanyaan yang ada. Semuanya tentang apa yang sudah aku tulis. Hingga pada pertanyaan akhir yang meluncur dari penguji 3, mr. Yul yang terkenal Super Killer dan dingin di kalangan dosen laki-laki itu melemparkan pertanyaan yang harus aku jawab dengan jujur.

Inti dari pertanyaan beliau, adalah mengapa aku terlihat begitu terburu-buru merampungkan skripsiku. Jika aku mau bersabar beberapa bulan skripsi ini akan jauh lebih sempurna. Dan kulihat sepertinya semua penguji menyepakati kata itu.

Oh…aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa aku bisa memperbaiki dan menyempurnakannya setelah ujian. Aku janji!

Tak hendak berlama-lama. Semua usai.

Dan akhirnya di putuskan, bahwa aku LULUS ujian Tesisku dengan harus puas dengan huruf B+, “lumayanlah”. Sesuai dengan kerja santaiku selama ini. Hihihi.

Belum pernah aku membuat tugas sesantai mengerjakan skripsiku ini. Meski pun aku sudah memasang target dengan perolehan angka di atas 85 yang berarti nilai huruf A. Tapi apa boleh buat, selama penyelesaian skripsi aku memang benar-benar tidak fokus, dalam waktu yang sama aku mengontrak PPL, melaksanakan program HIBAH RISTEK yang aku menangkan pada Juli 2010 lalu sebagai program unggulan wilayah Sumatera, lalu harus melanjutkan program PKMM DIKTI yang juga melenggang sebagai pemenang di Pulau Dewata dan terakhir sejak akhir bulan Oktober 2010 – April 2011 aku harus pulang pergi Jambi-Jakarta saat aku terpilih sebagai Duta Wirausaha Muda Mandiri Terinovatif kategori mahasiswa PT. Bank Mandiri (persero) tbk, dan terlibat dalam agenda evaluasi hibah Ristek di tahun 2011 ini.

Benar-benar kemudahan penyelesaian skripsi ini adalah karena pertolongan Allah semata lewat tangan-tangan-Nya yang tak terlihat, sehingga aku bisa merampungkan skripsi 3x lebih cepat dari kakak-kakak seniorku yang hingga saat ini ada juga yang belum kujung ujian seminar.

“Terimaksih ya Allah atas kemudahan yang Engkau berikan padaku.” Semuanya mengalir begitu saja, 2 pembimbing skripsiku begitu menyayangiku, belum lagi 3 penguji dimana aku sudah sangat dekat dan mengenal baik mereka.

ALLAHUAKBAR. Terimakasih ya Allah. Aku lega sekali. Lega bukan karena nilai B+ itu, akan tetapi karena aku telah bisa menahan hatiku untuk tidak marah menerima perlakuan dan amarah dari mam NorRrrrr ^^

Aku keluar dari ruangan.

Pukul 12.20 sidang itu rampung. Semua teman-temanku memelukku. Aku haru.

Ingin aku menulisakn do’a-do’a pesan itu di ruang ini. Akan tetapi baru aku sadari bahwa data semua pesan itu hilang. Baru aku sadari saat aku menulis catatan pagi ini. Aku menyimpan data itu di dalam my document. Malam sebelum ujian lebih dari 30 pesan yang masuk ke dalam ponselku, pesan yang berisi do’a, semangat dan motivasi untuk ku hadapi ujian esok hari.

“Ya Rahman sukran, sungguh aku tidak kekurangan orang yang begitu perhatian dan menyayangiku.”

Ujian skripsi telah usai, hampir satu minggu lamanya aku menyiapkan revisi tesis dan menyiapkan administrasi wisuda yang begitu njlimet dan bermacam-macam persyaratan. Hingga akhirnya aku finish dan merampungkan revisi akhir.

Minggu, 24 April 2011.

Ada tiga agenda dalam waktu bersamaan. Hari itu ada agenda rutin FLP – aku sudah memutuskan bergabung disana – kemudian agenda dari murabbiyahku (horeee–semua rekan baru), serta agenda silaturahim ke tempat para pengrajin rotan itu. Setelah berdiskusi akhirnya diputuskan bahwa aku tetap berangkat untuk silaturahim ke rumah suku pedalaman itu.

Pukul 07. 00 pagi sebelum berangkat ke Suku pedalaman, seperti hari biasa, setiap sabtu dan minggu aku memiliki agenda khusus. Setoran hafalan pada umu Qais. “hafalanku bener-bener kacauu”! Ummu Qais adalah guru mengaji tahfidzku di sini. Hari itu aku sudah meminta izin untuk pulang lebih cepat. Tapi tragedy itu terjadi, adik dari mengaji tahfidzku sedang bermasalah dengan teman satu kosanya. Akhirnya aku membawa dia pulang ke wisma. Pukul 10.30 aku baru bisa berangkat ke Pedalaman bersama Risma, mengejar Jumi, Dian dan Aris.

Jumi. Dia tengah melakukan penelitian tentang rotan di hutan nan gelap itu. Aku bermotor ria bersama ukh. Risma, temanku yang sedang berlibur di Jambi. Hari itu dahsyat betul. Aku berjelajah hutan menemani Jumi. Ia mengidentifikasi rotan di Taman Hutan Raya itu. SubhanAllah, benar-benar dahsyat isi dari hutan itu. Dua suku pedalaman itu menemani perjalanan kami memasuki hutan rimba nan gelap itu.

Kami melewati sungai kecil yang jernih. Bunga hutan dengan bijih hutan berwarna ungu itu menarik perhatianku. Hari itu habis turun hujan. Tak terkata, jalanan kehutan luar biasa. Semak belukar, akar-akar bertonjolan menyilang kekanan dan kekiri. Sesekali rok-ku tertancap dan menempel di duri onak rotan yang tajam itu. Jumi, Dian, Risma menertawakanku, mereka mengejekku dengan sebutan salah kostum. Benar sekali, rampung ngaji dan mengajak adik ngajiku ke wisma aku langsung kabur bersama risma mengejar mereka, hanya sempat menyabet jaket coklat dan tas ransel itu. Tak sempat lagi menukar baju. Akhirnya aku masuk hutan rimba itu dengan gamis hijau pupusku ini.

“Arrrrrrrrrrrrgggggggh” rok ku beberapa kali terkoyak-koyak terkena Onak rotan…Sementara rekan-rekanku berulangkali terkekeh menertawakanku.

“Kak Evi salah kostum, mana ada ke hutan pake gamis sama sepatu pesta” Ayu mengejekku.

Meski begitu aku tetap gembira, aku berulangkali memotret panorama yang menyembul di antara hutan-hutan nan pesona itu. Semuanya baik-baik saja. Sangat menyenangkan dan mengesankan. Kami tertawa riang menyusuri kayu panjang yang melintang di atas sungai yang jernih dan sedikit keruh itu. Jumi, Dian dan Risma berseluncur dengan menari-nari di atas kayu. Tak terkecuali aku yang merinding beberapa kali melihat kayu panjang dan kecil bulat berjelujur. Kakiku merinding. Dan, tap!!!! Akhirnya aku berhasil melewati kayu itu. Aih, lucunya, aku berhasil mengambil gambar yang menggelitik hatiku.

1.       Matahari Mengintip rimbunnya Taman Hutan Raya

2.       Warga SAD tengah memotong Rotan (yang menemani perjalanan kami)

Awalnya semuanya baik-baik saja. Hingga akhirnya ukh. Risma beberapa kali mengeluhkan kakinya yang gatal-gatal. Aku terkikik, “makanya jangan ngejekin orang” hingga akhirnya kami bertiga heboh di hutan itu. Beristighfar dan terkadang menjerit reflex. Bagaimana tidak, aku pun tak bisa terkata, saat harus melintasi sungai kecil tepat di bawah hutan bambo itu.

Huwaaaaaaaaa……

Kami saling melompat-lompat. Tak terkecuali Jumi yang cekikian melihat tingkah kami, aku tepatnya. Aku benar-benar mengigil. Ukh. Risma  cengar-cengir, karena ia pertama kali yang menjadi korbannya. Mereka bertiga anak-anak MIPA yang sudah terbiasa menghadapi hewan-hewan kecil hutan. Berbeda denganku yang terbiasa bermain dengan kata-kata di depan leptop. Dengan mencoba menguatkan hati, aku meluncur melewati sungai itu. Jumi, Dian, Risma mengikuti dari belakang. Istri dari warga SAD membantu menuntunku. Aris dan Bang Jul melewati sisi kanan. Dan…

JREEEEENG….

WOwww, subhanAllah.

Jalanan di depan tinggi betul, mendaki dan membukit.

Aku berlari mengejar puncak bukit, dengan tujuan bukan untuk segera sampai, akan tetapi untuk mengambil momen indah. Memotret dari puncak bukit.

3.      Potretku hasil dari puncak bukit

Rotan di atas bukit lebih banyak, rimbun dan tebal dagingnya. Jumi semakin bersemangat. Beberapa kali kami meledek perjuangan beratnya untuk mengambil gelar 3 huruf itu, Es-Pe-de

“Hoaalah Kak Jumi-jumi, mau buat skripsi kok repotnya kayak gini.” Dian berseloroh..

“Piyee, to jenk-jenk.” Risma menambahkan.

“He..he, nyesel yo kalian.” Jumi memelas.

Sementara itu aku mulai, resah. Tak menentu. Ada yang aneh di kaki kananku. Meski aku tak begitu memperdulikan. Ku coba tuk tenang. Hingga akhirnya saat perjalanan semakin jauh. Kami mulai sibuk dengan jalan masing-masing. Dan.

“Mamaaaaaaak,” kami kembali berhisteris refleks. Ternyata, dugaan kami benar, hewan kecil dan nakal itu dengan tenang menempel di kaki kananku.

“Allaaaahhh…”

“Paceeeeeeetttttt”!!!!!!!

Kami semua mondar-mandir, mengobrak-abrik pacet itu agar terleps dari kaki kami. Risma hampir menangis, karena kakinya sudah lebih dulu terkena korban donor darah oleh pacet-pacet nakal itu.

“Huwaaaaa…”

Kami mengobrak-abrik pacet yang menempel di kaki kami. Warga SAD senyam-senyum melihat tingkah kami. Rabbi, tak tertahan. Inilah pertama kalinya aku bertempur dengan pacet-pacet di hutan rimba. “ohh” Aku merinding.

Syukurlah, Jumi memutuskan untuk menyudahi pencarian rotannya, cukup itu dulu katanya. Saat itu yang terfikir adalah aku mau segera sampai di perumahan penduduk. Mengecek dan memastikan bahwa tidak ada pacet yang menempel di kakiku.

Tapi, hadoooooooh…

Padahal aku sudah memakai kaos kaki panjang plus dilapisi celana panjang, pacet itu nakal sekali. Ia menerobos kaos kakiku. Dan…Allahhhh,,, aku takuut pacet. Benar-benar takut. Sesampai di perumahan SAD, mukaku berubah menjadi seperti udang rebus. Merah tak menentu.

Jumi beseloroh.

“Makanya Ukh, besok-besok lagi kalo ke Hutan jangan pake Gamis, terus roknya biarin aja kayak gitu.”

Aku terkikik saat Jumi mengucapkan itu, karena mendadak aku melihat 3 buah pacet bersenandung merdu di rok bagian belakangnya. Jumi berputar-putar ngacir, dan mengobrak-abrik roknya, menepuk-nepuk dengan tingkah lucu. Aku geli. Dian sibuk mengutuki pacet kurus yang berubah gendut penuh darah yang sudah memakan darahnya yang manis itu. Ohh….paceeettt nakalll.

4.    Sungai kecil di rerimbunan bamboo hutan, yang ramai paceeet nakal

Catatan: Pacet hutan bermunculan saat kondisi baru selesai hujan. Jika cuaca panas dia tidak bermunculan seramai itu.

Hoaaah…

Sampailah kami di pedusunan. Kami masih menemani jumi, membantunya mengawetkan rotan-rotannya, menyemprot dengan spirtus dan membungkusnya dengan Koran buat di bawa ke Jambi. Aku tak sempat berkunjung ke rumah pengrajin. Akhirnya Aris yang bertandang dan mengambil barang anyaman. Hari sudah semakin larut. Masih banyak rotan yang harus disemprot dengan spirtus. Saat itu aku berhasil mengabadikan beberapa momen penting. Memotret kaki-kaki yang baru saja bertarung mengalahkan pacet hutan dan terjalnya hutan rimba itu, sembari menikmati semangkuk es cendol segar.

6. Semangkuk Perjuangan

Kami membantu Jumi sambil terkikik mengingat perjuangan mengalahkan pacet hutan. Jumi berulangkali meledek gamisku. Aku berulangkali mengambil indahnya alam terkembang di dusun pedalaman itu.

 7. Birunya Langit Jebak di sore hari          

Tepat pukul 17.30 kami usai. Terbanglah kami berlima meninggalkan pedusunan tanah pedalaman itu. Sepanjang perjalanan aku dibonceng ukhti Risma. Langit dipenuhi bintang. Kami berlima sepakat untuk memotong jalan menggunakan jalur kanan, melewati arah hutan Bulian. Jalur sepi, dengan konsekuensi jalan aspal yang rusak. Tapi lebih aman, karena mobil besar tidak ada yang melewati jalur itu. Namun dengan catatan kami harus mele wati hutan sawit yang luasnya berhektar-hektar.

Aku berdendang bersama ukhti Risma, dia berdendang riuh dan bernostalgia “Cihuuuy, wonderfull adventure” begitu ia mengekspresikan perasaannya. Aku bernyanyi sembari memandang langit yang penuh bintang.

Sepanjang perjalanan Ukh Risma sibuk bermaksud menceritakan kisah liburannya sesampainya di Palembang. Aku sibuk memperhatikan langit yang kelap-kelip dipenuhi bintang cantik. Kami meliuk-liuk di jalan yang gelap di hutan sawit itu. Bahagia betul rasanya setelah terlepas dari pacet-pacet yang membuat bulu kudukku merinding. Ukhti Risma semakin menambah kecepatan, dan aku masih saja menikmati langit itu hingga sebelum akhirnya..

GubraakkKKKKKkk….

Ciiiiiiiiitttttttttttt

Blukkkkk…

AllahuAkbar….!

Aku refleks!!!

Dan…

Entahlah!!!

Saat aku membuka mata aku melihat tubuh ukhti Risma terhempas di sebelah kanan motor, bersama tubuhku. Kami berdua terhimpit motor. Dan

“Aduuuuh,” kami meringissss.

Menghaduh.

Malam itu tragedy dahsyatterjadi. Sejarah aku terhempas di jalan aspal. Dan semua di luar perkiraan. Aku menyangka mungkin ada bagian tulangku yang terkilir, atau mungkin butuh perban, atau mungkin punggungku luka parah, dan beberapa persangkaan lainnya.

Tapi Allah masih melindungi kami berdua. Tidak ada luka berat. Hanya telapak tangan kananku yang tergores aspal, berdarah dan lutut kanan yang luka dalam. Lalu ukh Risma terkilir pergelangan tangan kanannya, dan beberapa luka ringan di tangan kirinya. Aku masih kuat dan menggantikan ukh Risma meneruskan membawa motor. Dan…

Aku hanya mau sampai segera di Jambi ya Allah…itu saja.

***

Aku sampai di wisma. Adik wisma panik dan segera mengobati luka kami. Mengompres dengan air hangat, memberi betadine dan mengurut tangan ukh. Risma. Malam yang melelahkan, meski dengan meringis aku membuka laptopku, bermaksud mengeprint hasil revisi akhir skripsiku untuk di jilid dan di paraf oleh PS dan penguji. Tapi apa yang terjadi, laptopku mati total. Tak BERKUTIK!!!!! Sementara data hasil revisi akhir belum sempat aku pindah di FD, aku menyimpannya di my Document. Dan, entahlah…

Malam itu aku memutuskan untuk istirahat…

Terserahlah apa yang akan terjadi besok. Aku mau tidur nyenyak mala mini.

***

Subuh aku bangun dan mengedit ulang semua tulisanku start dari awal, sebenarnya ingin aku menangis hari itu. Tapi menangis pun tak akan aku selesaikan masalah itu. Aku terus mengetik, membaca, mengedit dan terus mengetik dan terus, menyusuri baris kata-kata. Hingga akhirnya sampai TUNTAS!!! Tepat pukul 11.00 WIB.

Dan akhirnya, aku berhasil merampungkan semua persyaratan wisuda itu.

Saatnya menanti….

AllahuAKBAR!!!

***

Rabu, 27 April 2011

Catatan Tentang Mr. Sinyo “Si Jenaka”

Dengan gontai dan ceria aku mengendarai motorku pulang ke wisma karena baru saja merampungkan semua persyaratan wisudaku. Horeee!!! Akhirnya aku bisa menyelesaikannya pada waktu yang tepat. Sesampai di kamar, “wahhh kamarku full berat”. Ada Cici, Rini, Santi, dek Fya dan dek Dewi tengah berkumpul mengerjakan tugas kuliah mereka masing-masing. Hemm, kamarku memang nyaman. “Hihi” aku tertawa tergelitik dalam hati. Kondisi kamar yang full membuatku harus menunda untuk merebahkan penatnya hari ini. Suasana sedikit ribut saat Dek Fya bilang bahwa ada paket buku untukku. Glekk…

”Buku Mr. Sinyooooookah??? Aku bertanya tidak sabar.

“Ambil aja d rumah Yuk Dedek Mbak.” Jawab Dek Fya.

“Tadi Pak Pos yang ngantar.” Tambahnya.

Aku berlari menuju rumah Yuk Dedet di samping wisma, hanya ada Bapak Kos. Beliau meledekku.

“Bapak dak berani megang dak, takut agek bom buku pula.” Katanya.

Xixixi.

“Ya ndak to Pak, ini buku dari penulis keren Pak.”

Jawabku.

“Namo kok Sinyo Menyonyo.” Tambahnya lagi.

“Hihhi.” Aku geli.

Dan…

Semuanya berebut melihat buku itu.

“Mbak ini to buku Pa Sinyo, yang temen mbk di internet itu yo Mbak.” Serang Dek Fya.

“Wahh, bukunya Mr. Sinyo mbak yo.” Cici menambahkan.

“Mbak aku buka ya Mbak.” Dek Fya tak sabar.

“Iyo, bukaklah Dek.” Jawabku.

Aku hampir saja lupa dengan buku yang aku pesan dari mr. Sinyo, sangat disibukkan dengan menyiapkan dan melengkapi persyaratan wisuda. Baru saja aku ingat kalau Mr. sinyo akan mengirimkannya hari Sabtu, dan buku itu sampai di Jambi hari Rabu. Semua penghuni wisma menyambut dan membuka buku itu dengan riang hati. Aku tahu, semua penghuni rumah mengenal Mr. Sinyo dan terlebih Mbah nening. Aku sering menceritakan tentang teman-teman mayaku pada mereka. Dan mereka tampak asyik mendengarkan bagaimana jenakanya Mr. Sinyo.

Semuanya tergelak-gelak saat mereka membaca pantun yang di tulis mr. Sinyo.

Xixixi…

“Hadeeeuuuuhh, lucu pisan.”

Setelah puas mereka membuka A dan B, kemudian memberikan buku itu padaku. Aku tergelitik tertahan membaca pantun mr. Sinyo yang lucu itu. Juga tulisan tangan Mr. Sinyo yang mirip gaya  papyrus. Kecil-kecil dan unik, Lucu. ^^

Dear Dhe Evi

Semoga isi buku ini bermanfaat, amiin

Ne ada pantun

“jalan-jalan ke tanah jambi

Di sana ada suku anak dalam

Kalau jumpa si cantik Evi

Jangan lupa kau beri salam”

Xixixi== ayak ayak wae mr. sinyo

Seperti kebiasaan ku, setiap membeli buku baru, maka yang aku baca pertama adalah pesan dari sang penulis, pengantar dari penulis, halaman persembahan, endorsement, tentang penulis, lalu membuka daftar pustakanya. Lohhh, anehh to ya, kok bukan isinya. “Hihi” Itulah diriku yang memang aneh dan berbeda ini.

Aku hanya bisa bertasbih berulang kali ketika membaca daftar pustaka tulisan Mr. Sinyo. “SubhanAllah” belum pernah aku menemukan daftar pustaka yang demikian banyak dan memenuhi halaman akhir tulisan itu. Ada sebanyak 19 halaman full berisi daftar pustaka. Aku belum pernah membaca buku dengan daftar pustaka sebanyak itu, tak terkecuali buku-buku sejenis ensiklopedi, atau buku-buku psychology karya orang-orang non indo. Aku benar-benar berulang kali membolak-balik halaman daftar pustaka itu. Berulang kali tanpa bosan. Membaca dengan detail semua urutan mulai dari atas sampai ujung. Meneliti apa saja yang telah di baca oleh. Mr. Sinyo sang penulis buku itu. Dan sepertinya Mr. Sinyo gemar sekali berkunjung ke wiki serta banyak alamat web lainnya. Namun yang aku tangkap adalah bahwa mr. Sinyo sangat gemar berselancar di dunia maya, membaca banyak hal. Dan pandai betul membangun jaringan. Itu yang menjadi catatanku tentang penulis. “Xixii”, entahlah bagaimana respon Mr. Sinyo ketika membaca tulisanku tentang beliau ini. Lama betul aku terpaku dengan daftar pustaka itu. Bergumam tasbih berulang kali.

Membaca tulisan mr. Sinyo aku bukannya menekuni dan memhami bagaimana perbedaan semua term-term yang di sajikan disana. Akan tetapi aku berpandangan bahwa penulis buku tersebut sangat pandai membangun komunikasi dengan berbagai kalangan melalui dunia maya. Tentu saja ini menjadi catatan tersendiri bagiku, karena beliau berhasil membuat sang “yang mengalami” perbedaan-perbedaan itu memaparkan kondisi mereka apa adanya.

Thank a lot Mr.

Karya yang sangat bermanfaat.

Semoga menjadi pemberat timbangan amal di yaumul mizan kelak. Amiiin insya Allah.

03 Mei 2011

Sore ini aku dan Cici ke Galery, bermaksud mengambil kenang-kenangan dan contoh produk untuk di bawa ke Jakarta. Tapi sebelum sampai di gallery aku mampir dulu menemai Dek Uwi ke kosannya mengambil CD drive untuk menginstal laptonya. Sudah 2 minggu Dek Uwi tinggal di wisma. Umu Qais memintaku menjaganya, karena alasan keselamatan. Dia mengalami tekanan batin dan penganiayaan dari rekan yang tinggal sekamar dengannya beberapa bulan lamanya. Dan tidak pernah cerita sebelumnya. Hingga minggu siang saat kami sedang muraja’aah dia menangis dan menceritakan semuanya. Ummu Qais memintanya agar ia hijrah dahulu di wismaku yang lokasinya cukup jauh dari kosnya. Dan dari sinilah aku jadi terlibat konflik dengan rekan yang tinggal serumah dengannya. “Adik tingkat Uwi”

Huwaaaa, untuk pertama kalinya aku “disetan-setankan oleh temannya itu.” Di bilang “Bangsat” dan sebagainya. Naudzubillah…

Hadeeeuuuh,,,sebetulnya aku tak punya waktu untuk meladeni hal-hal semacam itu. Tapi Ummu Qais menelpon dan menanyakan apakah aku sudah menasehati anak tersebut. Hihihi, “udah Umu, evi bilang agar dia belajar bermuhasabbah diri.”

Glekk!!

“Evi, nasehat itu tidak cukup hanya dengan mengatakan muhasabbah diri, dia nggak ngerti dengan bahasa Evi. Evi harus jelaskan bahwa dia telah dzolim dengan Uwi, dengan cara memukul. Dan itu bukan akhlak muslimah. Evi harus jelaskan itu agar dia faham apa kesalahannya. Kalau hanya muhasabbah, dia nggak negrti Evi.”

Aku garuk-garuk kepala. “hehehe, iya Umu.” Oke!

Malam itu aku terlibat tausyiah sengit dengannya. Tapi sepertinya dia kalah kendali. Hingga akhirnya pesan yang masuk adalah pesan yang dikendalikan oleh Syaithonirrojim ” Naudzubullah”

Ini cuplikan kisahnya.

Aku :  Kalau kakak masih mencampuri urusan itu artinya kita masih saudara Dek, saudara seiman, semuslim, setahfidz!

25042011 05:27 PM

Dia : Aku berhenti dari Tahfidz sejak saat ini. Bodo’ jangan jadi PAHLAWAN KEMALEMAN deh. Dengar ya, saya gak ada urusan dengan Anda. Jadi jangan buat pasal deh, jangan buat amarah saya semakin membludak. Saya sanggup untuk menyingkirkan Kau!!

Aku : Ini bukan masalah singkir atau menyingkirkan Dek, tapi ini tentang akhlak seorang muslimah. Kakak hanya mengingatkan jikalau lupa.

05:35 PM

Dia : Saya gak perlu Anda ingatkan!!! Sapa Anda?! Anda tak berpengaruh dalam hidup saya!!! Anda hanya membuat masalah!!!

Aku : Berhati-hatilah, Ingat Dek ya!! Selama kakak masih mengingatkan berarti itu juga urusan Kakak. Jadilah pribadi Besar! Yang siap menerima pesan dan nasehat dari orang lain.

05:41

Dia : BUKAN URUSANMU!!!

Dia : urus aja dirimu sendiri!!! Kau FiKIR kau BESAR, HAH!! Orang yang ikut campur urusan orang lain, apa itu orang yang berjiwa BESAR?! BESAK OTA!!

Sampai disini aku mulai mendidih. Tapi berhubung aku banyak urusan. Aku berniat mengakhirinya.

Aku: Astaghfirullah, istighfar Dek, jangan sampai kita dikendalikan oleh Syetan. Ternyata…

Dia: KAU SETANNYA!!!

Aku     : Baik, Saya tak hendak berlama-lama dengan anak yang TIDAK TAHU SOPAN SANTUN. Wassalam.

Dia      : Hmmm!! ANDA yang GAK SOPAN!!! IKUT CAMPUR DALAM URUSAN ORANG!!!

Aku     : Oke!

Dia      : Oke!

Aku     : Siiiiiip

TITIK! Setelah itu percakapan tehenti.

Dan semenjak tragedy itu, Uwi di terror hampir setiap malam. Dia menangis ketakutan. Takut di cegat di kampus, dan hari-harinya dipenuhi rasa was-was dan cemas. Semenjak itu pula aku terlibat menyelesaikan urusannya. Membantunya menenangkan keadaan, meyakinkan dan menenangkan lagi, karena terkadang tiba-tiba Uwi nangis dan menjerit sendiri, menjerit ketakutan dan menyimpan rasa “tak berdayanya” menghadapi adik tingkatnya yang sangat possesif itu.

“Gusti…” Kasihan sekali adikku ini.

***

Sore itu laptop Dek Uwi mati. Sehingga ia bermaksud untuk pulang kerumah mengmbil CD driver. Aku sudah merasa tidak enak sebelum berangkat. Setelah pulang dari gallery aku bermaksud menjemput Uwi mengjak ke Wisma. Dan…

Dia      : “Aku Cuma minta satu tapi dio minta duo, yang pertama diok minta aku minta maaf samo kak Evi dan Umu, dan yang kedua diok minta aku berubah. Aku cumak minta diok tidok di sini malam ini.” Matanya berkilat-kilat penuh kesetanan.

Aku     : “Nggak bisa Dek, malam ini kakak dan Kak Uwi harus rapat di Wisma.” Jawabku berbohong.

Dia      : “Besok kan biso.” Sanggahnya dengan pandangan yang semakin dipenuhi amarah. Merah.

Aku mundur selangkah ke belakang. Di ruang dapur tempatku berdiri hanya ada aku dan dia. Dia berdiri didekat kompor, aku bediri di pintu dapur. Uwi, Cici dan linda menunggu kami di ruang tamu. Sementara Lis dan Dian penghuni wisma Gaza cuek nonton TV. Aku mundur selangkah saat ia mengambil benda tajam berkilau-kilau itu.

“Mamamak…, pisau.” Gumamku.

Wahhh, bisa berabe ni.

Aku mundur perlahan, lalu bergegas menuju ruang tamu.

“dek segera kita tinggalkan rumah ini, dia megang pisau. Berbahya jika kalap.”

Aku meraih pintu luar dan segera mengajak Uwi untuk segera meningglkan ruangan.

Uwi sibuk pamit.

Dan…

Huwaaaa……

Kami berlari keluar rumah, saat Dia keluar dari dapur dengan mata menyala-nyala dengan benda pisau tajam berkilau-kilau di tangan kanan. Cici dan Linda berlari keluar rumah meningglkan aku dan Uwi yang shock.

Babak selanjutnya adalah. Dia menyerocos tak menentu sambil mengacungkan tangan kanannya yang membawa pisau berkilau-kilau. Teman serumahnya menahannya di pintu, aku, Uwi, Linda dan Cici lari menuju motor.

Dan

JEDaRRRRRRR!!!

Dia membanting pintu wisma 2 kali sambil mengoceh tak menentu.

Kami ber empat gemetaran.

Kami berpacu mengegas motor pulang ke rumah, ke wismaku di mendalo.

Ngeeeeeeeeeeeeeeeeng….

Sudah cukup. Nafasku sesak. Kakiku gemetaran. Baru kali ini aku menghadapi seseorang yang mengacungkan piasu berkilau-kilau itu di depan mata kepalaku. Walahhh, ampun Gustiii, wesss, ndak usah di inget lagi.

Kami negebut di jalan. Tunggang langgang. Dan sampai di wisma. Hebohhh. Uwi nangis tak henti-henti. Aku dan Cici gemetaran tak tentu. Hingga akhrinya Allah melelapkan tidur kami dengan nyenyak.

4 Mei 2011

 

Sore ini pukul 12.00 WIB aku tengah sibuk menyiapkan baju untuk kembali berangkat ke Jakarta. 2 hari yang lalu, adik tingkatku mengabarkan kalau kami harus kembali datang ke Ristek BPPT, untuk melakukan evaluasi program Hibah Kemenristek yang kami menangkan 1 tahun lalu. Aku melipat gamisku dengan santai, dan sesekali menarik nafas, “Walah, setiap bulan kok harus pulang balik Jakarta.”

Aku sedikit merengut, mau tak mau aku harus berangkat, karena 3 adik tingkatku ada aktifitas perkuliahan yang sangat padat. Sehingga diputusakan aku berangkat ke Jakarta sekaligus menemani adik tingkatku Linda, melatihnya, jika suatu saat nanti telah datang masaku bahwa ruang gerakku tak akan sebebas ini.

Ponselku berdering, Bang David saudara Linda yang bekerja di Bandara menelponku. Bahwa aku harus sampai di Bandara pukul 16.00 WIB.

Ciamiiikkk.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 15.00, aku segera bangkit dan ambil wudhu untuk segera shalat ashar. Aku shalat ashar beberapa menit sebelum adzan Ashar tiba. Mengingat jarak tempuh dari wisma ke bandara memakan waktu 45 Menit.

Rampung shalat aku langsung pamit dengan orang wisma. Tanpa sempat lagi meminta rekanku untuk mengantar ke Bandara. Semuanya serba mendadak, aku berangkat naik ojek, Eka rekanku sudah berjanji akan mengantarku. Dia menungguku di gallery Telanai. Aku tiba disana dengan terburu-buru. Sudah menunjukkan pukul 15.40 Wib.

Huwaaa, “Come on ukhti…” kataku panik.

Ukhti Eka menggas motornya, meliuk-liuk melewati jalanan yang panas. Aku deg-degan, sms dari Linda yang menunggu di Bandara sudah bermunculan. “kak cepet, 10 menit lagi.”

Inilah percakapanku ditengah kepanikan keberangkatan.

“Ukhhhtiiii, 10 menit lagi, bisa dak ukh.” Tanyaku pada ukh Eka yang memboncengku.

Eka : “Tenang ukh…”

Aku : Deg-degan

SMS Linda: Entahlah kak nasib kito ni, 3 menit lagi.

Aku : (sms dikirim) Waduuuh..

Aku : 3 menit lagi ukh..

Eka : Ngos-ngosan “Wah lampu merah ukh”

Aku : Trabas ukh, ayo ukh, lewat jalur kanan

Eka : polisi ukh!

Aku : Kebuuuut Ukh, ayoo ukh…tancap!

Eka : Menggas motor..

Motor : Nguuuuuuung…

Weeeeeessssssssssssssssssssssssssssssssss

Aku : Allahu Akbar!!!

Pengendara lainnya : Melongoooooo

Dan…

SMS Linda : kk 1 menit lagi peswat terbang kak, panggilan terakhir. matiloh kito Kak

Aku : Huwaaaaa

SMS Linda : dimana Kak

Aku : 1 menittttttt ukh..

Eka : Woooiiii (teriakkk marah)

Mendadak di depan jalan arah menuju bandara seorang laki2 memutar motornya tanpa memberi kode lampu.

Aku : Huss, ukhti…tegang-tegang kok masih bisa marah

Eka : diok tu na (dia itu na)

Balum sampai di parkiran, aku turun dari motor tanpa sempat salaman dengan ukhti Eka, aku ngacir dan berlari mengejar Linda.

Aku : Adeeeeeeeeeeeeekk (berlari sambil menggendong tas ransel berisi laptop dan menenteng tas koper kecil berisi 3 stel gamisku).

Linda : ya Allah Kak, habis kitooo, matilah kito Kak.

Bang David : Mesam-mesem.

“Di Jakarta mano biso telat-telat macam ini, ini di Jambi. Masih biso Abang contact petugasnyo.

Aku : Celingak-celinguk nyari ukhti Eka. Ngos-ngosan.

Dan..

Wuuussssssssssssssssssssssssssssss.

Bandara Soekarno Hatta

Sekitar pukul 19.00 aku dan Linda sampai di Bandara. Rencana malam itu aku bermaksud naik Damri menuju apartemen Rasuna, Bakri. Nginep di rumah adik tingkat yang kuliah di Bakri. Sebenarnya aku belum begitu mahir menggunakan jasa Damri, dulu pernah naik Damri, tapi masih takut-takut. Dan itu sangat dulu sekali. Malam ini aku bermaksud naik damri. Agar bisa lebih hemat. Sudah cukup lama aku dan Linda menunggu bus jurusan gambir. Tapi tak kunjung tiba, karena khawatir akan berlarut semakin malam, ujung-ujungnya kami naik taxi juga. Huhhh…, gara-gara tak ambil taxi resmi bandara kami kena harga ini dan itu, padahal aku uda minta via argo. Dasar sopiirr bawel.

“Sudah lah Pak, biar saya telpon saja kantor prusahaan Taxi ini.” Gerutuku pada Supir taxi yang bawel itu.

Tapi, Ngeeeeeeng. Belum sempat aku menulis nomor plat mobil.

Dan…

Sudahlah.

Itulah sebabnya aku lebih percaya pada Blue Bird. Aman dan service nya paling OK dari sekian perusahaan Taxi yang pernah aku tumpangi, cuma ya harganya itu yang sangat berkelas dan benar-benar membobol kantong.

Kami tiba di apartemen Rasuna. Alamak. Perusahaan pak Bakrie benar-benar merajai pasar Ekonomi Indonesia. Tapi kami hanya melewati apartemen itu, karena adik tingkatku itu tinggal di kawasan apartemen, bukan di apartemen. Hehe. Sembari menunggu ia menjemput kami di masjid Bakri, aku duduk meluruskan kaki.

Bener-benar teller deh. Sampai di rumah Ita dan bersih2 aku langsung go to my sleep. Padahal slide monitoring evaluasi belum apa-apa. Linda sibuk mengutak-atik slide. Dan aku Zzzzzzzzz.

“Kak di mano Kak.” Suara Linda remang-remang menyusup ke dalam telingaku. Dan aku,

“disitulah Dek, di data D, hanifa gives the best, all my academic, al-ardvici, wmm nasional, wmm evi marlina jambi, data evi.” Bla…bla…aku menjelskan lokasi penyimpanan data itu…dan

Aku tidur…

***

Pukul 03.30 dini hari aku bangun. Rampung QL, tilawah, shubuhan, dan beres-beres aku menghidupkan laptop. Bermaksud mengecek hasil kerjaan Linda. Dan mengedit-edit data yang diperlukan. Tepat pukul 07.00 semua sudah beres. Kami bersiap untuk berangkat ke BPPT yang terletak di kawasan Sarinah. Setelah meminta petunjuk jalur apa saja yang harus kami lewati aku dan Linda pamit meninggalkan tuan rumah.

Pukul 07.30 WIB kami start naik bus way. “Rasain deh Evi, hayyyah sempit-sempitan” Aku dan Linda memutuskan untuk naik busway. Tentu lebih murah dan meriah. Meskipun harus bersempit ria dan berdesak-desakan. Aku cengingisan bersama Linda mengingat harus ikut mengantri dan kringatku yang besar-besar itu mulai membanjiri jilbab kremku. Setelah transit di Dukuh 2 kami melanjutkan perjalanan menuju Sarinah,

Di Shelter Sarinah.

Dengan berlari-lari kecil kami menaiki tangga penyeberangan itu.

“Asyiiiiik, bentar lagi kita sampai Dek, alhamdulillah” Kataku dengan riang.

“Kak agek kito sarapan dulu yoo.” Ajak Linda.

“Tenanglah tu, yang penting kito sampai dulu.” Jawabku dengan berlari-lari kecil.

Sudah hampir 20 menit kami berjalan, tapi anehnya belum juga kulihat gedung tinggi bertuliskan BPPT itu, padahal seingatku gedung itu terletak di sisi kiri jalan trotoar yang kulewati ini. Tak sampai 5 menit seharusnya kami sudah bisa sampai. Akhirnya Linda bertanya dengan satpam yang tengah berjaga, dan sang satpam menjawab kalau kami perlu jalan menuju ke depan saja. Go forward!

“Di sana Mbak, di depan kok dekat arah Bundaran HI.” Kataya menjelaskan.

“Berarti sudah betul Dek.” Kataku.

Sudah jauh kami berjalan, hamper 30 menit. Tapi tak kunjung juga sampai. Kami mulai panik. Mengingat acara di mulai pukul 09.00. Hari mulai gelap. Langit merintik perlahan. “Heaaalaaaa, tambah seRu ni Dek kalo hujan.” Kataku pada Linda yang mulai terlihat sangat kelelahan. Teyeng.

“Tanya lah lagi Dek sama petugas tu.” Aku meminta Linda bertanya pada seorang polisi lalu lintas. Dan

“Ohh, ke sana mbak, pas mbak di shelter sarinah tadi seharusnya mbak mengambil jalur kanan, terus mbak belok kanan.”

“Hoooooooooahemm.” Aku cekikian.

“Kakkakaaaaaaaakkkkk” Linda terpekik.

“Kayak mano Kak, naik busway bae yuk, atau naik kopaja bae kak.” Usul Linda.

“Cabuuutttt rek.” Aku mengajak Linda berbalik berjalan menyusuri trotoar.

“Kepalang tanggung Dek, naik busway juga kita mesti nyeberang lewat shelter yang jauh itu.”

Akhirnya kami berjalan kaki menyusuri jalanan menuju shelter yang dimaksud. Awan mulai rintik. Kami tertawa kecil sembari bercerita ringan berdua.

“Orang Jakarta ni siap-siap semua dak Dek, tengok tu, bawa payung.” Ocehku sambil menunjuk ibu-ibu yang mengepakkan payungnya.

“Mereka tu lah terbiasa siap menghadapi situasi Kak, hadeeeuh kak jauoooh nian kak” Sambung Linda.

“Hihihi, semakin banyak rintangannya semakin seru buat di ceritakan Dek.” Jawabku.

“jeeeeeeeeeeee Kakak ni.” Ejek Linda.

“Dak percaya ya, kakak aja udah pernah ketinggalan penerbangan pesawat pas pulang ke Jambi waktu ke Bekasi dulu. Kakak nyampe di bandara udah sore, uda nggak ada lagi penerbangan akhir untuk jambi. Padahal hari uda masuk magrib. Mana di Bandara banyak orang ngeri-ngeri pulak tu. Tapi dari situ kakak jadi belajar mengendalikan situasi. Belajar tenang dan berfikir mengambil dan memutuskan mau kemana.” Kataku panjang lebar.

“Terus kakak kemanolah waktu itu.” Tanya Linda tertarik.

“Hihihi, kakak uda hubungi kak Amik, mau di rumah istri beliau, eh, baru inget kalau beliau lagi di Malaysia, kakak telp temen rumahnya juga jauh dari kawasan bandara, sama Mbak Maria rumah perubahan di suruh balik lagi ke Bekasi. Dan ujung-ujung mbak sampai deh di Menteng, di rumah Ita. Tempat kita yang sekarang. Dan blubhhhh…” kami sampai di Shelter busway, melihat ke sisi kiri.

“kakakakkkkkkkkkkkkkk, ya Allah itu kan gedung BPPT.” Linda berteriak kegirangan.

“Ya Allah…., padahal itu gedung deket banget dengan Shelter. Dan malangnya sesungguhnya kami hanya cukup mengangkat kepala sedikit saja maka kami tak perlu salah jalan mengambil jalur. Tapi begitulah cara Allah melatih kami untuk bersabar dengan cara dibiarkannya kami tak mengangkat kepala saat melewati jalur itu.

“Hihihi, kalau kesasar di kota Jakarta mah kita gak perlu khawatir Dek, soalnya banyak orang yang bisa kita tanyo, tapi cobak dek kalo kita kesasar di hutan, mau Tanya samo siapo coba. Lagian kita kan juga uda belajar mencari jejak waktu kecil.”

Linda Cuma mesam-mesem, cengar-cengir.

Tepat pukul 08.54 menit kami sampai di BPPT. Aku dan linda langsung naik lift menuju lantai 6, ruang dimana tahun lalu kami juga melakukan presentasi di tempat yang sama. Namun dengan kondisi yang berbeda, kalau tahun lalu kami datang untuk mempresentasikan proposal lomba itu, dan kedatangan kami tahun ini adalah untuk melaporkan apa saja yang sudah kami lakukan.

Ruangan masih sepi, kami disambut oleh Mbak Nana, pegawai ristek bagian kepemudaan, yang sering melakukan kontak dengan kami melalui milis dan email.

”Lohh, temen2 yang lain mana mbk.” Tanyaku.

“Iya belum pada datang mbak Evi.” Jawab Mbak Nana.

Aku dan Linda mesam-mesem.

“Tumben Kak UNJA paling awal.”

He…

Kami berdua sibuk merapikan slide, aku sibuk membalas pesan dari temanku, si Toro, tim UGM yang ternyata juga kesasar. Xixixixi. Lalu menysul titis dan rekannya yang juga dari UGM hadir menyusul, lalu UNIBRAW tim kokon, dan IPB akhirnya lengkap deh. 6 kelompok. Dan presentasi berjalan sukses. Beberapa catatan dan PR diberikan oleh mereka kepada semua tim.

Pukul 15.00 Aku dan Linda pamit dulu. Kami pamit mau main ke Jatinegara. Mau lihat pernak-pernik. Sensei Edi, Mbak Nana dan semua staf kemenristek yang hadir meledekin kami.

“Yo wesss, kasihan jauh-jauh dari Jambi, ben kelilinng dulu lah.” Seloroh Sensei Edi.

“Senseiiiiiiiii, ngejeeeeekk.” Kataku sambil manyun dan kami pamit.

***

Hari sudah semakin sore, pukul 15.00. “Hoaaahemmm” sebetulnya aku ngantuk berat, tapi Linda memaksaku dan sangat antusias untuk berkunjung ke pasar Jati Negara, dengan tujuan melihat aneka cinderamata. Dan

“Eallllllaahhhhh, jauhhhhhhhhhnya gak ketulungan”

Kami harus beberapa kali transit.

Sampai disana pukul 17.00. pasar sudah mulai sepi. Hari baru saja hujan deras. Becek dan bau.

“Halalhh Dek, pernak-perniknya kok ndak ado dek.” Kataku.

Kami bertanya pada pedagang buah yang sibuk itu.

“Oh, di sana neng, neng maju aja terus nah pas bagian orang jual duren tu neng belok kanan, banyak neng, Mau Nikah yo Neng.”

Glekkk…

Jangan-jangan kalo orang mau nikah larinya ke sini semua.

Hari sudah semakin sore. Kami mulai munyan-manyun. Ternyata pernak-perniknya nggak ada yang unik, aneh atau minimal kayak handcraft di gallery, pikirkku. Semuanya berbahan dasar flannel, model kipas-kipasan ,mug kecil dan sejenisnya yang sudah biasa.

“kalau di jogja ya baru pusatnya dek, ayolah kita balik, ini sama ajalah.” Aku mengajak linda pulang.

Hari semakin gelap. Kami kembali naik busway. Huuuffrrr…wooowwww kereeeen, bauknya itu loh, warna-warni. Aku terkikik di tengah-tengah kerubunan desakan penumpang. Aku berulang kali bertanya pada kondektur busway, “mas gor sumantri masih jauh kan mas.”

“Masih mbak.” Serobot penumpang yang masih gadis bersama seorang pria yang seusianya yang juga duduk di depanku. Aku terkikik. Dia pun balik terkikik.

“Aku juga mau ke ragunan mbak, kita searah.” Jelasnya.

Kami transit di tempat yang sama.

Mereka sibuk menjelskan jalur yang harus kami tempuh.

“Subhanallah, ternyata tidak semua oang Jakarta tak peduli. Buktinya dari kemaren perjalanan selalu saja ada yang membimbing alur perjalanan kami.” Gumamku.

Pukul 20.30 kami sampai di Gor Sumanteri. Jalanku sudah mirip Donald Trumph. Glenak-glenuk…Linda terbahak-bahak melihat cara jalanku.

“Hadeeeuuuhh, maboookk kakak dek.”

“wkwkwkwkwwkwk” Linda makin terbahak.

Malam itu zzzzzzzzzzzz.

****

Pukul 04.00 aku gegempatan. Bangun tak karuan. Bagimana tidak aku ketiduran rupanya pas sampai rumah, belum menjamak takhir magrib dan shalat isya. Gdubrak!!!! Aku terburu2 wudhu dan shalat, ngaji sambil menunggu subuh tiba.

Pukul 07.00 Linda mengajak kembali ke Glodok.

“Huaaaaaa…Kakak uda teller Dek.” Jeritku

“Ayolah Kak, sekalian. Masak ke Jakarta nanggung. Kita ke Glodok.” Bujuknya.

Sambil mikir-mikir aku bertanya pada Ita dkk, merinci tempat-tempat yang unik. Yang penting ndak ke Ancol, Dufan dan semacmanya. Pasti membosankan. Jerat-jerit tak tentu fikirku. Aku mau ke tempat yang agak lengang.

Akhirnya kami putuskan menempuh perjalanan ke Kota Tua.

Uhuuuuyyy.

Perjalanan di mulai.

Linda semangat betul menapaki jalan. Aku terkikik melihat dia melompat-lompat. Dan ternyata…Kota tua itu letaknya lebih jauh dari rencana awal, melewati pasar Glodok dan Asemka. Padahal rute awal kami akan berkunjung ke Glodok lalu Asemka. Membeli beberapa pesanan teman. Tapi semua kami batalkan ketika aku mendengar Kota Tua.

Dan ternyata memang Unik!!! Aku suka betul yang unik.

Bangunannya kayak peninggalan jaman Belanda, sudah buruk dan persis rumah hantu gitu. Kayak castil vampire di TV-TV. Hiiii. Aku bergidik.

Aku bersepeda ria disana, pake topi kayak none-none belanda. Berkeliling kota tua dengan sepeda ontel.

Pukul 10.00 kami caw meninggalkan lokasi. Kembali ke Sumantri dan segera menuju Bandara. Kami harus sudah sampai di Bandara pukul 13.00 WIB. Kami meluncur ke Bandara via taxi.

Dan…sampai disana pukul 13.00 tepat. Usai jamak qashar kami menuju ruang tunggu. Dan…

“Penumpang tujuan Jambi dengan penerbangan JT…. Mohon maaf atas ketidaknyamanan perjalann Anda, penerbangan pukul 14.00 di tunda menjadi pukul 16.00 WIB.” Suara petugas Bandara memekakkan telinga penumpang. Seorang Bapak-Bapak berbadan gembul marah-marah.

Aku cueekk. Sembari mengeluarkan bekal snack, kacang bawang guruh, stick kentang dan air mineral.

“Kriukk, kriukk,,” aku menawari Ibu yang tampak suntuk di sampingku.

Dan…on line via handphone.

Linda sibuk menghidupkan laptopku dan bermodem ria.

Setelah bosan aku membaca tulisan Raditya “raka” kocak. Dan

Pukul 17.00 Kami take off meninggalkan Soekarno.

09 Mei 2011

 

Pagi ini aku teringat pesan masuk dari Lena, rekanku, sama2 peserta wirausaha muda, ia utusan dari kanwil mandiri Palembang. Beberapa hari yang lalu saat aku di Jakarta, beliau mengirimkan pesan agar aku menyebarkan informasi beasiswa Wirausaha yang diselenggarakan oleh YEA, milik pak Jaya Setiabudi. Aku benar-benar lupa. Pagi-pagi aku menyalakan lepiku dan langsung menghidupkan modem, aku menyebarkan info tersebut via FB, karena itulah yang kufikir jauh lebih efektif. Setelah kurasa cukup barulah tenang.

Tidak ada menu istimewa hari ini. Sudah 2 hari ini nafsu makanku berkurang. Tak tahulah. Tiba-tiba aku tak bernafsu makan. Rasanya perutku full terus. Aku memaksakan diri untuk memasak yang instan, sambal sarden campur telur dadar. Baru saja aku menggiling cabe tiba2 Ayah Cici datang, horeeee, wisma mendadak riuh gembira. Yahhh, Ayah Cici datang dengan aneka oleh-oleh warna-warni. Kami semua gembira tentu saja.

Rampung masak dan makan bersama, aku menghidupkan lepiku. Harusnya hari ini aku setoran hafalan, tapi agenda dipending besok pagi. Aku menyalakan leptop dan mataku terbelalak. SubhanAllah, aku menemukan sebuah folder yang berjudul “Ucapan Skripsi.” Ternyata catatan malam sebelum aku menghadapi ujian skripsi masih tersimpan dengan baik. Tidak hilang seperti catatan yang kusangka hilang tempo dulu. Aku membaca ulang dan tersenyum penuh syukur. Aku membaca ulang catatan itu

  1. Mb Yudha UNPAD  18 04 2011 09:33

Asw. BarakAllah ukh Evi..udah lulus ni J moga ilmu yang di dapatkan di bangku kuliah semakin bermanfaat buat umat. Semoga saya segera menyusul anti😀

  1. Nike 18 04 2011 06:36

Asww..K evi tadi ujian skripsi kak ya? Gimana ujiannya tadi kak?

  1. Ijul 08042011 10:52

Semangat Kak semoga Allah memudahkan urusan kk hari ini

  1. Sugi 18042011 10:48

Insya Allah Kak Evi sukses ujiannya amin..

  1. Ima 17042011 08:58

SubhanAllah..Sukses mb Evi…

  1. Siti Mut 17042011 08:57

Smoga sukses ya Mb, mbk pasti bisa melewati itu semua

  1. Nirwan Unsud 17 04 2011

Ganbatte Ukh Evi. Semoga semuanya PAS!

  1. Irna 17042011 07:17

Semoga dimudahkan Allah ujian skripsinya. Semangat Kak! Ya Allah, kami tidak tahu apa yang Engkau rencanakan untuk kami esok hari, berikanlah kami kekuatan, keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi hari-hari dalam kehidupan kami. Amin

  1. UGM Raras 17042011 06:38

Evi, ma’annajah! Semoga Allah senantiasa memudahkan ujian evi besok pagi. Semangat!

  1. Fajar UGM  17042011 05:38 PM

Semoga dimudahkan oleh-Nya

  1. Agung UNAIR 17042011 04:12 PM

SeMangat ukh…innAlah ma’ana, semoga dimudahkan, dilancarkan dan berkah hasilnya

  1. Widi STIKBA 17042011 04:48 PM

Mudah-mudahan semua lancar ya mb. SeManagt dan sukses selalu!!!

  1. Anik 17042011 03:53 PM

Amiiiin…, semoga lancar ya say. Insya Allah anik datang

  1. Eris 17042011 03:45 PM

Cayoooow ukhtiy, do’a ana selalu ada 4 you. SUKSES!!!

  1. Bunga 17042011 03:42

Amiiin untuk mbak evi…

  1. Veny 17042011 03:39 PM

Insya Allah aku datang besok vi, semoga sukses ya vie…

  1. Ofah 17042011 03:30 PM

SubhanAllah, Alhamdulillah, semoga lancar dan sukses ya kak, SeMangat!! Ofah

  1. Adi Unsud 17042011 03:28 PM

mudah2an dimudahkan ukh. Ma’aki Najah

  1. Heru UNS 17042011 03:27 PM

SeMangat ukh J Semoga saya segera menyusul

  1. Gelza 17042011 03:14 PM

Maaf ya say, gz lagi di kampong nech, kirm do’anya aja ya, moga semuanya lancar

  1. Kenie 17042011 03:13 PM

Selamat  ya vi, insya Allah aku datang…Guud luck sista,

  1. Dina 17042011 03:12 PM

Wah selamat ya ukh. Semoga lancar tuk ujiannya. Semoga dina bisa datang ukh. besok Dina ke sekolah dulu.

  1. Eka 17042011 03:09PM

Insya Allah eka datang ya ukh, semoga lancar. Amiin

  1. Ali 17042011 02:24 PM

Ana do’akan besok udah jadi S.Pd

  1. Oky 17042011 02:12 PM

Semangat ya Mb! InnaAllah Ma’ana. BISA!

  1. Linda 17042011 02:28 PM

SeMngat Mb! Boleh nonton gak mb

  1. Mam Army PS 1- 17042011 11:59 PM

Mudah2an bisa lancar saja Nak

  1. Titha 17042011 12:59 PM

Sukses ya Mb Evi J

  1. MITI Sekjend Syaefudin 170411 20:15 PM

Anti Fokus aja keujian, semoga Sukses!

Untuk urusan SIDa nya biar ana aja yang rampungin. Gud luck dah!

  1. Mamak Bintang Hatiku 170411 20:20 PM

Semoga Allah meridhoi dan memudahkan urusan Evi dan semua anak-anak mamak. Amiin insya Allah.

  1. De el—el—el—(kehapus karena inbox full)

Dan akhirnya aku bisa tersenyum penuh syukur. Thank you Allah. Sungguh aku tidak kekurangan sedikit pun orang-orang yang begitu perhatian dan menyayangiku. ^^

 

09 Mei 2011

 

Aku benar-benar kangen ingin banyak bercerita di rumah mayaku ini. Tapi kesibukan aktifitas terkait amanahku pada beberapa amanah kampus dan aktifitas di MITI membuatku tak bisa berlama-lama di sini. Bahkan agenda pulang kampungku sepertinya harus ku tunda, sampai rampung wisuda. Huhuhuhu, SeMangTT!

Saat ini aku tengah mengejar deadline pembuatan bisnis plan untuk pengembangan usaha dari progam HIBAH Ristek tahun lalu, mereka memintaku dkk untuk menyiapkan bisnis plan pengembangan usaha dengan penambahan influence unsur teknologi. Dan aku SangaT SIAP! Grak! Insya Allah.

Allahu AKBAR!!! Hohoho. Selamat datang dunia baruku.

Yang selalu SERU dan BARU ^^

***

Pukul 15.00 aku tiba di Rumah Pak Dede, dosen pertanian yang mengantarkanku menjadi jawara nasional. Aku membawa skripsi yang sudah kujilid. Bermaksud memberikan skripsi itu kepada beliau, sebagai bentuk ungkapan suka citaku atas segala pengorbanannya selama ini. Sembari mengantarkan Cici mengambil alat Fisikanya. Kami banyak berdiskusi panjang lebar. Beliau sedang merancang banyak hal. Dan tentu saja aku akan menjadi salah satu pemain di dalamnya. Di dalam system itu. “Entrepreneur for Kids” Horeeee. Aku suka dunia anak!!!

Tiba-tiba saja aku merindukan sesuatu.

Secuil catatan

Tentang Keluargaku di WSC

Aku benar-benar kangen dengan WSC

Kangen dengan cerianya mbah Nening

Bijaknya Udo Yamin,

Halusnya Bunda Raihan,

Bunda Lisa,

Jenakanya Mr. Sinyo, Lucu pisan

Info updatenya pak NurSalam,

Kisah Serunya si bujang “Iso Ngilang”

si Toyib Ganteng

hohoho,

Melowwnya Bang Fiyan Arjun

(indiaaaahee melulu, hihihi),

Cerita menggelitknya dek Dian,

Artikel segernya nya pak Dadang,

cerita uniknya Ummi Fikri,

Dan pak Mujiarto di sana

Pak De Ali dengan do’a2nya

Mbak Halima dengan respon2nya

Pak Made

dr. Dito

Mbak Nisa yang lagi sibuk skripsi

Ukh Al-Abs dengan bejibun di landa macet jkt, hee..

Dhedy key board Dancer🙂

dan Pak..

Yang belum kesebut

Monggo Abseen ya

Dan…

Yang pasti…

Kisahku sendiri

Yang muter-muterrr

Kayak Komedi Putarrr

SerRu!!!

^^

Selasa, 10 Mei 2011

Aku bangun kesiangan hari ini. Benar-benar kesiangan. Badan pegal-pegal dan tak menentu. Sejak beberapa hari lalu cuaca Jambi panas tak menentu. Emmh, sudah lama aku berencana untuk istirahat beberapa hari serampung sidang skripsi. Tapi kenyataan berbeda, rampung ujian 18 Mei sampai kemaren ternyata kesibukanku semakin mendaki dan tak terbayangkan.

“Huwaaaaa, hihihi thank you Allah.” Masih Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang begitu menyibukkanku dengan hal yang bermanfaat. Coba kalau tidak. Nau’dzubillah…

***

Aku bersyukur haru. Karena masalah Dek Uwi sudah tuntas. Ia sudah kembali ke Wisma. Keadaan sudah membaik seperti semula. SubhanAllah luar biasa bagaimana cara tangan Allah yang tak terlihat kasat mata itu bekerja. “Motor Dek Uwi raib di ambil maling” dan Allah menggantinya dengan keadaan yang kembali normal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s