Wajah Kereta Negeriku “Sebuah Paradoks”

Kreatif!

Aku menyeringai!

Menggigil!!!

Bukan untuk yang pertama kalinya aku menjejaki lorong gerbong berwajah kereta. Di negeri merah putihku. Kereta dengan ratusan penumpang berbagai tujuan dan keperluan. Namun…, aku menyayangkan! Diriku sendiri. Setidaknya. Adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah usiaku memutuskan untuk melintasi kawasan lokasi tujuan gedung mentereng kota Jakarta dengan menaiki kereta listrik di kelas yang sedemikian istimewa. Kereta kelas padat karya. Karya kreatif Kereta kelas khusus “bersubsidi.”

Kereta istimewa di negeriku bak lumbung padi yang subur. Yang gembur dan layak digunakan sebagaimana lahan menanam padi. Kereta kelas bersubsidi. Ini menjadi lahan yang topcer untuk menjajakan aneka karya kreatif manusia pojokan bumi merah putih. Sungguh, ini “kreatif.” Yang menakutkan. Namun, apa yang bisa aku lakukan sebagai penyinggah sementara di kota sekeras dan setakmenentu itu. Entahlah…

Seperti hal penumpang lainnya, aku bersyukur karena bisa duduk meski dengan berdesir-desir darah jantungku. Melihat beginilah “nelangsanya” bangsa besarku. Mengumpulkan “geronceng.” Meski, hanya berangka 50 perak. Itu menjadi angka penting. Yang mahal dan layak untuk diperjuangkan di dalam gerbong bercat kuning lapuk, memudar sempurna. Gerbong penguk yang memualkan lambungku.

Mataku bergerak-gerak, berputar dari satu karya ke karya lainnya, meliuk-liuk mengikuti gerakan tangan-tangan pekat berotot legam yang beralih fungsi menjadi titik tumpu tubuh kurusnya, mengekor, membuntuti aneka kuliner gorengan kelas dua ribu tiga berbungkus plastik yang terlihat mengkilap dan kupastikan berdebu, juga mengikuti suara gaduh gemerincing grup Boy Band gerbong kereta dengan aneka kreatifitas yang sejatinya layak diperjuangkan oleh kelas berdompet tebal.

Tak kalah kreatif adalah semacam swalayan kelas KRL yang mencangking aneka dagangan berupa masker, aneka pita-pita rambut lucu, tisu, majalah, tabloid, permen, pemotong kuku, sapu tangan, air minum dan lain sebagainya, lengkap. Juga ditambah penceramah berwajah tua, berjilbab dekil yang mengingatkan kematian dengan bahasa yang diulang-ulang. Ceramah kematian. Yang berubah. Menjadi sangat membosankan. Membuat penumpang semakin tak perduli dan mengantuk. Semakin bertepuk tanganlah hatiku menyaksikan “aduhai betapa kaya dan kreatifnya negeriku ini.” Entahlah…

Yang menggodaku!

“Dialah manusia satu-satunya yang menyayangimu tanpa ada batasnya 

Bila kau sayang pada kasihmu lebih sayanglah pada ibumu,

Bila kau patuh pada rajamu, lebih patuhlah pada ibumu.

Tiada keramat yang ampuh didunia selain do’a ibumu juga.”

 Bait lagu itu mengalun sempurna. Lagu dangdut kebanggan negeri milik Pak Haji Rhoma Irama yang diayun-ayunkan oleh suara mungil dan merdu. Penasaran! Aku kesulitan untuk melihat wajah pemiliknya. Kereta sesak, penuh berdesakan. Mataku berkeliling mencari pemilik suara kecil yang lembut mendayu-dayu itu. Seketika! Aku ketakutan. Matanya menembak dalamnya pandangan mataku. Menembus jantungku. Hatiku menciut. Berdesir-desir. Gadis cilik berambut jagung. Dekil penampilannya. Berbusana berwarna biru muda berlengan panjang, berjeans kumal. Ayu wajahnya. Rabbana, sungguh pengecutnya diriku. Kerdil sekali. Hatiku meriang! Menggigil demam.

Sejatinya, kita memang harus cukup mengerti diri dan faham dengan kondisi seperti ini. Kereta ini hanya dihargai 1500 rupiah. Itu sebuah service yang pantas diterima dengan harga selevel itu. Tentu tidak tepat jika kita harus membandingkan dengan pelayanan yang diberikan oleh commuter line dengan angka 6000 rupiah. Kereta ber AC, bercat bersih dan harum, berlantai berkilau-kilau, pembagian ruang khusus antara gerbong pria dan wanita, bahkan kita juga bisa sejenak memanfaatkan waktu sebelum sampai di kantor, sambil bertidur sepoi-sepoi menikmati service paten berupa pemandangan indah rumah-rumah mungil berdinding dan beratap kardus, sungai hitam beraroma kakus, juga pemandangan gunung-gunung sampah yang hijau meneduhkan hati dan mata.

Bahkan, kalau kita mau, kita juga bisa menikmati service memejamkan mata dengan santai dan nyaman disepanjang perjalanan. Berdo’alah semoga saja keretanya sedang tidak penuh. Dengan demikian kita bisa lebih nyaman menselonjorkan kaki dengan mengutak-atik leptop, I-pad, handphone atau semacamnya. “Ini bicara tentang service yang layak dibayar dengan harga yang pantas dan mahal Bung.”

Dan tentu saja, kita tidak harus membandingkan kereta “istimewa” ini dengan harga angka kereta yang melangit di negeri sendiri. Apalagi mencoba untuk membandingkannya dengan kereta bawah tanah milik negeri Matahari Terbit. Itu sangat tidaklah adil.

Dan ini bukan berarti kita tidak boleh mengintip bagaimana kereta bawah tanah negeri Sakura itu menservice customernya, serta mampu mendefinisikan tentang kata keadilan dengan lebih adil dan bijak.

Memang demikianlah adanya, bangsa kita telah dididik oleh para “pakarnya.” Dalam kurun waktu berabad-abad lamanya. Yang kreatif dan kerdil materi memang tidak layak di service sebagaimana dengan pelayanan yang diberikan kepada kelas harga yang tinggi. Apalagi mencoba menuntut meski hanya sekedar lantai yang disapu rutin oleh petugas. Karena inilah definisi keadilan yang dijajakan dan diobral secara murah oleh para “dewan pakar” negeri ini. Harga yang murahnya melebihi kreatifitas manusia-manusia pojokan gerbong kereta tua 1500 rupiah itu.

Demikianlah, kita diajarkan makna keadilan setiap harinya. Disuapi oleh aneka wajah-wajah kemiskinan yang didesain sedemikian rapi. Dibicarakan dan dibahas secara penting dan serius oleh para “pakar” nya di meja coffe hangat senilai 50.000 secangkirnya. Digaungkan secara masal keseluruh pojok gerbong. Dimeetingkan beberapa jam di hotel super mewah dengan harga belasan juta rupiah dalam waktu istirahat kurang dari 24 jam saja. Dibahas secara padat dan intensive disepanjang perjalanan di tingkat dunia sembari duduk di armada terhebat dan super canggih dalam bidang customer service.

  Nyaris, diriku sendiri juga hampir hilang rasa “peka” karena sedemikian padatnya wajah-wajah kreatif yang terpaksa nelangsa atau justru ikut serta berpura-pura menjadi nelangsa. Nelangsa yang didesain dengan jitu dari pakarnya, dalam setiap babak dan pekannya. Selayaknya motto dan tema istimewa yang diobral secara murah di gerbong kereta tua.  “Pembangunan negeri harus terus berjalan, perbaikan infratrukstur juga harus terus ditingkatkan, kita hidup untuk melayani bangsa, demi kesejahteraan negeri” Kata yang diteriakkan di dalam gedung tinggi ber AC, empuk dan nyaman. Suaranya keras. Titahnya dicetak ribuan media. Tapi ruhnya nyaris tidak terdengar oleh wajah gerbong tua. Tidak terbaca oleh mata. Para wajah gerbong tua sudah terlalu sesak mengatur lambung yang berhimpitan, bahkan sulit untuk mengatur letak telinga sekali pun di kereta itu.

Tidak perlu saling menyalahkan dalam hal ini. Karena dinegeri ini semuanya menjadi benar. Mengutuk pemerintah tidak ada gunanya. Karena mudah mendingin seketika. Menjadi tuntas dan jelas itu harga yang sangat mahal. Tidak ada alokasi dana untuk itu.

Negeri ini tetaplah “nelangsa.” Dan akan terus begini selama para pemegang kata 8 huruf itu berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja. 8 huruf yang mematikan hati. Inilah negeriku yang sebenarnya.

Negeri yang dihargai secara murah oleh para penguasa wajah kreatif gerbong tua keretaku. 8 huruf yang membunuh karakter bangsaku. Yang bersembunyi di balik punggung dan wajah-wajah bangsaku di gerbong kereta. Yang penguk, bauk, kotor, dan legam. Koruptor bergaun tema “Melayani Negeri.”

Aku juga tidak boleh hanya dengan modal “mengoceh,” di balik layar. Atau berjingkrak-jingkrak di depan gedung. Dengan maksud turut meramaikan kutukan kepada para penguasa 8 huruf. Atau memaki-maki para wajah bertema “besar” yang hidup di depan mataku. Itu keras. Pahit. Bukan solusi yang tepat. Krisis pesakitan ini terlalu akut. Tidak cukup hanya dengan teriakan. Itu melelahkan.

Hendaknya wajah-wajah di dalam gerbong tua itu cukup memberi kita referensi dan catatan penting bagi diri. Tentang wajah negeri ini. Bagaimana setiap pribadi harus bertindak dan melangkah. Bersegera mengambil perannya masing-masing. Bersinergi membangun kekuatan.

Bagaimana yang berkesempatan belajar di bangku sekolah untuk bersungguh-sungguh lebih banyak dan lebih keras, bagaimana yang berkesempatan membelah dan berjelajah dunia bersegera memanfaatkan kesempatan dan peluang sebesar-besarnya, membangun jaringan seluas-luasnya, berfikir lebih cerdas dan berdaya guna, berbuat lebih banyak.

Bagaimana kita yang berkesempatan mengakses informasi secara besar dan luas untuk membuka dan membangun jaringan lebih kuat, merancang dan melakukan aksi lebih bernilai. Tidak untuk kepentingan pribadi. Atau untuk kepentingan golongan tertentu semata.

Kita butuh belajar kesungguhan. Kesungguhan untuk bermakna. Kesungguhan untuk berkarya. Kesunguhan untuk menata negeri ini. Sebagaimana kesungguhan dan keseriusan kerja keras yang diajarkan secara sederhana oleh mereka. Para pemilik wajah kereta tua negeri ini. Negeri kita. Indonesia. Untukmu negeriku. Aku tuliskan ini.

 

Tanah Melayu, 12 Desember 2011

Catatan Perjalanan #Di gerbong kereta tua, Stasiun Serpong 6-8 Desember 2011

Evi Marlina Al-Ardvici “Bintang Fajar” untuk negeriku.

2 responses to “Wajah Kereta Negeriku “Sebuah Paradoks”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s