Refleksi Akhir Tahun “Memaknai Pengabdian”

Terkadang sempat terfikir dibenakku ungkapan seperti ini“Ya Allah, sampai kapankah pengabdian ini akan berakhir.” Itu adalah ungkapan alami dan klasik bagi para pengabdi kelas teri sepertiku dan tim. Kendatipun fikiran idealis masih lebih besar, pernak-pernik yang bertentangan dengan hati nurani juga acapkali mampir dan berteduh sejenak dalam fikiran kami.

                Hari sudah semakin larut, tidak terasa telah dua tahun AL-ARDVICI bergegap gempita mendulang asa dan beragam cita bersama masyarakat Pedalaman Suku Anak Dalam di kawasan Dusun III Senami Jebak Batanghari Jambi. Dulu kami berfikir, program PKMM DIKTI ini akan berhenti setelah pasca Kemenangan Perolehan Medali Emas dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Denpasar Bali, namun itu dulu 2010 lalu, karena kenyataan berkata berbeda, kami masih terus berjalan di tengah-tengah keterbatasan dan kelemahan ini. Kamu tahu, itu adalah amanah berat yang kami rasakan di sepanjang tahun-tahun perjalan kami hingga genap 2 tahun kini.

                Kawan, adakah engkau pernah merasakan hal yang sama dengan yang kami rasakan di sini? Mungkin jawabnya adalah iya. Coba kemari, dan lihatlah lebih dekat, di negeriku ini, sulit aku cari pemuda-pemuda yang mau dengan serta merta berbuat untuk orang lain. Saling mendukung satu sama lain. Jika aku melihatmu begitu enerjik, berkompeten, bergerak cepat, membangun kekuatan meskipun di tempat yang berbeda, itu adalah hal yang sangat membuatku begitu bergembira. Ternyata kami tidak pernah sendiri. Ada juga kau  yang juga melakukan hal yang sama meski di tempat yang berbeda. Dan kufikir, untuk negeri seperti tanah kita ini, hanya dengan menjadi pelopor dan melakukan dengan penuh ketekunan itu adalah hal yang membuat hati ini menjadi merasa lebih baik.

                Sepanjang tahun ini, beragam penghargaan jatuh satu persatu mendatangi AL-ARDVICI, berkesempatan mengikuti beragam pelatihan, mengisi beragam seminar dan workshop nasional, itu adalah pita warna-warni sebagai pemanis dari pengabdian ini. Namun sejatinya, pengabdian bukanlah itu, pengabdian adalah seperti air putih yang membuat segar ketika kita haus di siang hari, pengabdian seperti nasi di saat kita merasa lapar melilit, pengabdian seperti hujan di musim kemarau, seperti hal yang penting dan mendesak.

Semoga pengabdian ini kelak berguna untuk bekal kami hadapi tantangan di masa depan. Jika pun tidak dunia, semoga ada nilainya di mata Tuhan, Allah Yang Maha menilai.

                Salam

Evi Marlina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s