S.A.D

Masyarakat Suku Anak Dalam merupakan bagian dari kelompok masyarakat minoritas yang berada di wilayah provinsi Jambi dengan populasi seluruhnya 2.951 kepala keluarga atau 12.909 jiwa yang tersebar di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo Tebo dan Kabupaten Sarolangun.

Saudagar (2005) menjelaskan bahwa Suku Anak Dalam atau Orang Kubu adalah istilah yang dikembangkan oleh Orang Terang untuk menyebut suku asli Melayu Jambi.  Istilah   Kubu   adalah   istilah  yang   tidak   disukai   oleh   Suku  Anak   Dalam  karena istilah   ini   tidak   sesuai   dengan  pendapat   mereka   dan  dipandang   menghina   Suku Anak  Dalam.   Suku   Anak  Dalam  tidak  menyebut  dirinya   kubu,   tapi  mereka   (ia) menyebut dirinya sebagai orang dalam, atau Anak Dalam, atau Orang Rimba, atau Orang Kelam.

Perilaku Orang Rimba yang kubu atau terbelakang, disebabkan beratus tahun moyang mereka hidup di tengah hutan, tidak mengenal peradaban. Kehidupan mereka sangat dekat dan bergantung pada alam. ”Keterbelakangan di era globalisasi itulah salah satu penyebab terjepitnya kehidupan Suku Anak Dalam(SAD) di Jambi saat ini.

****RALAT

Heheh…

Mohon maaf pembaca, ternyata tulisan ini telah banyak menimbulkan kontra dari pembaca. dikarenakan informasi yang diberikan penulis yakni saya sendiri yang tidak lengkap. ^^

Sebenarnya tulisan ini memang belum saya publish semuanya. Ini hanya sak cuil dari paragraf atar belakang karya tulis ilmiah aya dan teman2 yang alhamduillah sudah lolos penulisan ilmiah Nasional di tahun 2010.  Jadi untuk tidak langsung menjudge begutu saja ya…^^

Tapi apa pun itu…terimaksih atas masukannya. Dan mohon maaf atas tulisan yang tidak penulis terbitkan semuanya.

Suku Anak Dalam sangat Luar bIasa!!!

Karena saya sudah berinteraksi sejak 2009-saat ini.

Oh ya, sumber penulisan ini di dasarkan pada Ahli Budayawan Provinsi Jambi, Bapak Fachrudin Saudagar. Kalau Anda bermnat silahkan kirim email ke blog ini ya. ^^

Salam

Evi M

3 responses to “S.A.D

  1. salam, sepertinya anda menulis ttg suku anak dalam seolah asal saja, bukankah sudah banyak literatur? coba anda baca tulisan antropolog Cambridge “Kubu Conception of Reality” mungkin banyak membantu pemahaman anda, banyak membaca dan bertanya akan banyak menambah wawasan…thx

    baca juga buku Kesultanan Sumantra dan Negara Kolonial🙂

    • Salam,
      Terimaksih Bapak atas kunjungannya. Tentu saja tulisan ini berdasarkan dari hasil interaksi kami dkk sejak 1 tahun yang lalu (awal januari 2009) hingga saat ini. Jadi hasil dari interaksi, dan tentu saja bukan imajinasi dan cuma-cuma. Karena aktifitas yang kami lakukan berupa kegiatan pemberdayaan masyarakat SAD yang tinggal di kawasan Batanghari, yang kini sudah hidup menetap. Tentu saja penyebutan Suku ini karena memang mereka yang menyebut mereka dengan sebutan demikian. Hehe…
      Terimaksih atas sarannya. Dahsyat!!! Bila ada kesempatan silahkan berkunjung ke Jambi ya ^_^

  2. Istilah SAD atau Suku Anak Dalam merupakan istilah yang dibuat oleh pemerintah dan mengacu kepada 2 suku yang berbeda yang kawasan tinggalnya terutama di Propinsi Jambi, yaitu Suku Orang Rimba dan Suku Batin Sembilan. Kedua suku ini merupakan suku yang memiliki adat dan karakteristik berbeda. Oleh karena itu, teman-teman harus membedakan antara 2 suku ini.

    Terkait jumlah SAD yang ada di Jambi, data teman-teman cukup mendekati. Terkait dengan sebaran SAD, teman-teman masih harus melihat sebaran SAD di kabupaten2 lain, karena SAD (baik itu Suku Orang Rimba maupun Suku Batin Sembilan) memiliki sebaran yang sangat luas dan tidak hanya di 3 kabupaten tersebut.

    Saya setuju dengan komentar pertama, bahwa teman-teman harus menambah pengetahuan terkait SAD. Hal ini bisa dilakukan baik dengan membaca literatur mengenai SAD yang ditulis oleh para peneliti atau penggiat yang sudah terlibat lebih dahulu dengan mereka. Jangan sampai, pengetahuan yang minim dan tidak dalam mengenai SAD teman-teman sampaikan ke publik, dan malah mengakibatkan publikasi yang tidak tepat, yang mengakibatkan pemahaman yang salah dari masyarakat terhadap SAD, dan akhirnya dapat merugikan eksistensi budaya Suku Orang Rimba dan Suku Batin Sembilan.

    Saya salut dengan inisiatif teman-teman untuk mengangkat derajat kehidupan SAD. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s